Minggu, 10 April 2011

Coretan Perjalanan [9] Pegunungan Bintang

Dengan ditemani Agus Salim (sekarang Kepala Bapeda Kab. Keerom) saya berangkat dari Jayapura ke Pegunungan Bintang dengan pesawat pertama yang terbang pada pukul 07.00 WIT. Kami sudah bersiap di Bandara Sentani sejak pukul 06.00. Cuaca cukup cerah jadi dapat dipastikan pesawat tidak delay.

Bagi saya ini pengalaman pertama, penerbangan ke kawasan pegunungan tengah yang orang bilang pedalaman Papua. Kabupaten Pegunungan Bintang termasuk kabupaten baru hasil pemekaran. Letaknya kalau di peta, pas di tengah badan pulau Papua pada garis yang memisahkan Indonesia dengan Papua Nugini.

Bandara pagi itu sesak dengan penumpang dari berbagai penjuru, sehingga ruang tunggunya sepenuh terminal bus menjelang Lebaran. Tapi pemeriksaan di Bandara Sentani tak seketat di Cengkareng. Di sini calon penumpang boleh membawa air minum, termos isi minuman panas dan karung-karung plastik atau kardus-kardus berukuran besar yang hanya diikat dengan tali rafia, seperti yang banyak kita lihat di terminal bus dan stasiun kereta api. Bahkan, para calon penumpang tak hanya membawa termos air dan panci yang agak besar, tetapi juga kasur lipat dan bantal. Mereka juga membawa telur ayam di wadah lebar yang terbuat dari bahan karton, serta beberapa ekor ikan asing kering yang dibiarkan "telanjang", tanpa bungkus.

Anehnya, tak ada penumpang yang keberatan dengan semua itu. Termasuk tidak ada kru dan penumpang yang merasa aneh -kecuali saya, barangkali- melihat banyak yang bersandal jepit, memakai daster, dan berpakaian seperti layaknya tukang cat yang sedang bekerja. Melihat cara saya memperhatikan para calon penumpang dan bawaan mereka itu, Agus salim tersenyum. "Jangan heran ustadz. Di atas (kawasan pegunungan tengah), semua kebutuhan harus diangkut dengan pesawat." jelas Agus.

Pesawat memang satu-satunya alat transportasi untuk menjangkau kawasan pegunungan tengah. Sampai sekarang belum ada jalan darat yang menghubungkan daerah tersebut dengan kota-kota lain di Papua. Penerbangan Oksibil-Jayapura dan sebaliknya dilayani tiga maskapai penerbangan, masing-masing Trigana, Avia Star, dan Merpati. Semuanya menggunakan pesawat kecil, berbaling-baling.

Jumlah penerbangan Oksibil-Jayapura tidak bisa dipastikan. Sangat bergantung pada cuaca. Bisa dua tiga kali, kalau cuaca baik. Tetapi, bisa tidak terbang sama sekali kalau cuaca buruk. Padahal, cuaca di Pegunungan Bintang sangat sulit diprediksi. Perubahannya bisa sangat tiba-tiba. Karena itu, tak ada maskapai penerbangan yang berani melayani rute tersebut pada sore hari.

Selain cuaca, yang juga sangat menentukan penerbangan di rute tersebut adalah jumlah penumpang dan kargonya. Meski penumpangnya tidak banyak, jika kargo yang harus diangkut cukup banyak, pesawat tetap terbang. Ini karena pesawat-pesawat yang ke pegunungan dan daerah-daerah kecil lain di Papua adalah pesawat kargo.

Jadi, "Jangan heran kalau harga Aqua di Pegunungan Bintang bisa Rp 7.000,- pergelas. Dan, harga gorengan seperti tahu goreng Rp 5.000 perbutir ," tambah Agus.

Sampai pesawat hampir mendarat di Bandara Oksibil, saya belum paham benar apa yang dijelaskan Pak Agus yang sudah belasan tahun tinggal di Papua. Saya baru benar-benar ngeh dengan penjelasan itu setelah turun dari pesawat. Kami turun belakangan, karena kami memilih duduk di deretan depan. Naik pesawat di sana -kecuali untuk rute keluar Papua- tanpa nomor duduk. Naik turunnya pun lewat pintu belakang karena pintu depan diperuntukkan barang. Namanya juga pesawat kargo.

Saya bersyukur bisa turun belakangan. Sebab, dengan begitu saya bisa melihat barang apa saja yang dibawa pesawat yang saya tumpangi. Ada panci berukuran besar, beberapa dos lantai keramik, sekarung bawang putih, beberapa sak semen, beberapa lembar seng untuk atap, dua buah kasur spons (bukan spring bed lho!), dan beberapa kursi lipat. Begitu keluar dari perut pesawat, barang-barang itu dijajar sekenanya di kaki pesawat.

Begitu menginjakkan kaki di bandara Oksibil kami dijemput Thonce Nabyal aleg PKS asli Pegunungan Bintang. Karena memang tujuan saya ke Oksibil atas undangan beliau dalam rangka pengukuhan pengurus DPD PKS Kabupaten Pegunungan Bintang. Puluhan sepeda motor berbendera PKS siap menyambut kami di luar bandara. Kami langsung diantar ke Balai Pertemuan milik Pemda tempat acara berlangsung.

Detik ini PKS kembali mengukir sejarah baru bagi roda perjalanan keorganisasiannya di tanah Papua. Dengan dilantiknya pengurus baru DPD Pegunungan Bintang, genap sudahlah struktur PKS di seluruh kabupaten di provinsi Papua yang berjumlah 33 kabupaten.

Acara baru dimulai pukul 10.00 WIT di Balai Pertemuan Pemda setempat. Karena mayoritas yang hadir Kristiani acara dibuka dengan doa oleh pendeta Katholik, lalu menyanyikan ‘Indonesia Raya’. Dilanjutkan dengan sambutan dari ketua panitia. Pak Slamet, selaku ketua panitia menyampaikan tujuan diadakannya pelantikan tersebut, salah satunya adalah untuk memompa motivasi pengurus baru agar memiliki semangat baru pula.

Kemudian saya dipanggil mewakili DPP PKS untuk memberikan sambutan, dalam kata sambutan saya mengajak para pengurus DPD yang baru dan seluruh masyarakat Pegunungan Bintang untuk bahu membahu, bekerja sama dan mempererat tali persaudaraan dalam bingkai NKRI.

Seperti biasanya, acara pelantikan dibarengi dengan penyerahan SK Pengangkatan bagi pengurus baru DPD PKS Pegunungan Bintang. Acara berakhir pukul 12.30 dan ditutup dengan makan bersama. Kali ini ada menu special di Pegunungan Bintang…Bakar Batu.

Mungkin Anda bertanya-tanya tentang kok ‘Bakar Batu?" Mengapa batu harus dibakar? Bakar batu merupakan sebuah kegiatan masak-memasak. Namun disinilah letak keistimewaannya. Barangkali Anda tidak pernah membayangkannya sebelumnya. Media yang dipergunakan untuk memasak adalah BATU. Yah... batu-batu yang dibakar hingga panas memijar.

Masyarakat pegunungan Papua dan beberapa daerah pesisir menggunakan metode bakar batu untuk mengolah makanan mereka. Masyarakat Paniai menyebutnya dengan 'gapii' atau 'mogo gapii', sementara masyarakat Wamena menyebutnya 'kit oba isago'. Sementara masyarakat Biak menyebutnya dengan 'barapen'. Kata 'barapen' sepertinya sudah menjadi kata yang umum di Papua (mungkin karena mudah diingat dan diucapkan).

Umumnya kegiatan bakar batu ini dilakukan untuk menyiapkan hidangan dalam sebuah upacara besar. Upacara-upacara ini bisa dalam bentuk upacara pengucapan syukur, perdamaian (untuk mengakhiri perang antar suku), dan upacara-upacara adat lainnya. Hal yang menarik dari kegiatan bakar batu adalah melibatkan banyak orang. Disinilah akan terlihat betapa tingginya solidaritas masyarakat Papua.

Proses persiapan hingga matangnya makanan pun terbilang cukup lama, sehingga umumnya pada saat menunggu proses matangnya makanan biasanya dipakai oleh kaum muda untuk menari-nari (tergantung upacara yang sedang berlangsung). Proses matangnya masakan—biasanya yang dimasak itu babi tapi kali ini hanya 50 ekor ayam-- membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam.

Sementara menunggu masaknya makan-makan tersebut, biasanya kaum muda bersenda gurau sambil meneriakkan pekik-pekik kebahagiaan. Hal menarik lainnya adalah mereka akan duduk dalam kelompok-kelompok kecil dan sambil mempersiapkan masakannya. Jika sudah matang makanan-makanan itu akan dibagikan kepada semua orang yang ada dilokasi pesta, tanpa terkecuali. Semua mendapatkan porsi yang sama baik tua maupun muda hingga anak-anak.

Dan hasil masakannya? Bagi sebagian orang yang tidak terbiasa mungkin akan merasa agak risih karena makanan itu diolah di dalam lubang dalam tanah. Namun... saya jamin, sekali mencoba.... Anda akan ketagihan. Kok bisa??? Yah... karena itulah pesona Papua.

Membersamai pengurus PKS dan masyarakat Pegunungan bintang

Depan 'metro mini' terbang di bandara Oksibil

Kantor PKS di Pegunungan Bintang...yg penting kompak

konsituen PKS sampai ke pelosok

bersama Andi...di pagi hari...makan indomie

Siap menikmati olahan bakar batu

masyarakat dengan tertib menanti dengan sabar masakan disajikan


Salah satu DPC PKS di Pegunungan Bintang
 
Ranting PKS di pegunungan Bintang papua
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar