Penerbangan Ambon-Sorong yang berdurasi lebih kurang 60 menit itu akhirnya berakhir dengan mulus. Saat ban- ban Wings yang kami tumpangi berdecit nyaring meluncur di bandara DEO (Domine E. Osok) Sorong. Lima menit kemudian saya sudah menginjakkan kaki dengan selamat di kota Sorong.
Sorong bukan tujuan utama saya kali ini. Saya hanya transit sekedar istirahat mengumpulkan tenaga. Karena sore nanti perjalanan akan dilanjutkan menuju kota kecil Teminabuan. Ibu kota kabupaten Sorong Selatan yang berjarak sekitar 170 km dari kota tempat saya singgah.
Saya dijamu makan siang oleh Pak Agus, dia teman saya yang sudah belasan tahun menetap di Sorong. Dia menyiapkan mobil untuk menjemput dan mengantar saya. Pria asal Nusa Tenggara Barat ini akan menemani saya meneruskan perjalanan ke Teminabuan, sekitar 170 km dari Sorong, kami mengendarai mobil sewaan, Mitsubishi Strada Triton. Sopirnya bernama Cepi, ia polos, santun dan cepat akrab, asli Makassar yang bekerja sebagai sopir sewaan di Sorong.
Dengan Starada Triton kami berangkat pukul 16.00 WIT. Perjalanan ke Teminabuan ini mungkin perjalanan darat terberat yang pernah saya alami. Masalahnya kondisi jalan yang lebih cocok disebut medan off road, bahkan masih lebih bagus medan jalan yang dipakai oleh pembalap rally kita yang biasanya di kebun sawit. Tapi itu hal yg biasa bagi mereka yang tinggal di Papua.
Dan kendaraan umum yang dapat melintasi jalan ini hanya mobil-mobil yang mempunyai double gardan seperti Mitsubishi Strada, Ford Ranger dan Toyota HILUX. Di Jakarta ataupun di kota-kota kendaraan ini terbilang kendaraan-kendaraan mewah yang sangat disayang si empunya. Sebenarnya ada alternatif lain, ada jalur udara dan laut, rutenya hanya Sorong-Teminabuan. Seperti pesawat Twin Otter dengan kapasitas penumpang 15 orang, di mana berat barang bawaan maksimal 15 kg/orang. Jadwalnya tiga kali seminggu.
Hampir semua kendaraan dari dan ke Teminabuan harus siap-siap berhadapan dengan cuaca buruk dan tidur malam di tengah hutan sepanjang jalan. Perlu diketahui bahwa sepanjang perjalanan tidak ada penginapan maupun tempat istirahat seperti rumah makan atau warung. Alhasil, sebelum berangkat semua sudah harus dalam kondisi siap tempur, ya mobilnya, ya sopirnya, ya penumpangnya, juga perbekalannya.
Dari Sorong, menikmati jalan aspal licin hanya sampai di km 30. Selanjutnya kami hanya bertemu aspal berlubang, tanah berkubang ataupun jalan berbatu. Jadi sepanjang 170 km atau 7 jam kami seperti sedang melakukan rally alam. Menerobos hutan-hutan yang masih perawan sungguh menyeramkan bagi mereka yang baru pertama kali melaluinya, pohon-pohon menjulang tinggi. Kadang terpikir andaikata mobilnya mogok, tidak ada bantuan dan terpaksa harus menginap di tengah hutan? Tapi hutan-hutan di Papua tidak ada harimau, ular, gajah ataupun binatang buas. Suara burung terdengar sepanjang jalan.
Sepanjang perjalanan saya banyak melihat kendaraan-kendaraan mewah ini (Mitsubishi Strada, Ford Ranger dan Toyota Land Cruiser 2000) lalu lalang dengan warna-warna mobilnya sudah tertutup lumpur. Saya harus menikmati perjalanan ini. Menikmati roda-roda mobil yang menerobos dalamnya lumpur di tengah hutan lebat. Dengan gagahnya mobil Strada ini melewati lumpur-lumpur di sepanjang jalan seperti tiada halangan yang berarti. Walaupun berjalan pelan, tapi pasti. Ingin rasanya saya menyupiri mobil di medan seperti ini.
Walaupun sungguh melelahkan tapi saya bisa jamin siapapun yang pernah jalan darat ke Teminabuan, pasti mengagumi pemandangannya di sepanjang jalan. Bagaimana tidak, alam Papua yang asri dengan deretan pepohonan yang menghijau, sungguh menyegarkan mata. Belum lagi di sisi kiri kanan jalan ditumbuhi berbagai bunga liar ternasuk anggrek – anggrek tanah berwarna ungu muda yang bermunculan keluar dari sela- sela pakis yang beraneka jenis.
Di tengah perjalanan kami sempat berhenti di daerah bernama Kladuh dikenal dengan Kali Taputar. Di sini ada sebuah pusaran air yang tidak kelihatan jelas ke arah mana aliran airnya mengalir. Jadi ada kali besar yang dibatasi dengan dinding-dinding batu, terus air sungai itu berputar-putar di tengah- tengah dan tidak ada yang tahu akan muncul di mana? Sungai yang begitu besar dan deras arusnya bermuara di bawah tebing tersebut. Jadi, sungai permukaan beralih menjadi sungai bawah tanah yang masuk melalui sebuah lubang besar dibawah tebing yang mengakibatkan terbentukan pusaran air yg sangat kuat. Jangan membayangkan apa akibatnya kalau kita kecemplung di sungai tersebut! Semua kendaraan selalu berhati-hati bila melewati daerah ini karena kalau musim hujan air bisa meluap ke pinggir jalan dan bisa menarik mobil yang lewat untuk di sedot ke pusaran air.
Pukul satu tengah malam pada hari Senin tanggal 3 Januari 2011 kami tiba di Teminabuan, Kabupaten Sorong Selatan. Kami masuk ke sebuah hotel sederhana namun dilengkapi AC, saya cukup kaget mendengar harga sewa 1 kamar antara 300 hingga 400 ribu rupiah, kamar standar hotel berbintang tiga di Jakarta seharga itu. Namun jauh lebih mewah dari ini, kamar seperti ini di Jakarta mestilah berkisar 100 ribu atau kurang, tapi faktor jarak dan susah serta mahalnya barang barang karena jauh dari ibukota, membuat semua harga menjadi mahal di sini. Sebagaimana ongkos sewa mobil 4X4 itu sebesar 1,5 juta rupiah.
Teminabuan sebenarnya kota dengan nilai historis tersendiri bagi bangsa Indonesia, apalagi bagi pelaku-pelaku sejarah ‘Pembebasan Irian Barat’ mendengar “Teminabuan”, mereka pasti akan meneteskan air mata karena berbagai perasaan berbaur menjadi satu. Perasaan bangga, haru dan syukur menjadi satu ketika mereka mengenang kembali peristiwa-peritiwa yang dialami di daerah tersebut. Peristiwa heroik ini patut diteladani oleh generasi-generasi penerus.
Kisah nyata ini terjadi dalam rangkaian peristiwa ketika bangsa Indonesia merebut kembali wilayah Irian Barat (sekarang Papua) dari Belanda, peristiwa ini dikenal dengan nama Tri Komando Rakyat (Trikora). Trikora terjadi karena adanya gelagat Belanda yang tidak mau melepaskan Irian Barat. Sehingga dalam suatu rapat raksasa tanggal 19 Desember 1961 di alun-alun Yogyakarta, Presiden Soekarno mengumumkan “Tri Komando Rakyat” kepada seluruh rakyat Indonesia.
Adapun tiga maklumat yang disampaikan oleh Presiden Soekarno ketika itu adalah: Gagalkan pembentukan “Negara Boneka Papua” buatan Kolonial; Kibarkan sang merah putih di Irian barat tanah air Indonesia; Bersiaplah untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air Indonesia.
Teminabuan… kami datang!!!!!!. Sebuah kabupaten baru dengan perkembangan yang sangat pesat, pembangunan di sana-sini meski pembangunan masih merupakan bangunan-bangunan kantor dinas dan beberapa fasum, diharapkan dengan pembangunan kantor-kantor dinas yang tersebar, akan membuat masyarakat berminat untuk menanamkan investasi di daerah ini. Dan memang itulah yang terjadi.

start menuju sorsel

Strada Triton menerjang lumpur

Benar...benar offroad

Jeblos su biasa...

Penampakan Triton setelah tiba di Teminabuan

Mejeng dekat Triton tumpangan

Latar belakang Kali TAPUTAR...gak berani lihat ke belakang..ngeri gan!

Dapat jalan bagus

Membersamai tokoh2 masyarakat maybrat di Temi

Mesjid Raya di teminabuan

Pelabuhan di Temi

Bersama tokoh Kokoda...haji Abbas Kokaragu

Bersama Bapak Wakil Bupati Sorong Selatan terpilih 2010-2015 Syamsudin Angginuli, SE
Mas saya igin ke twminabuan,apa bisa,saya menjadikan pak agus guide saya ? Saya sendirian
BalasHapus