Selain nelayan asal Thailand, ada juga sejumlah kecil awak kapal asal Cina, Korea, dan Vietnam. Para nelayan itu biasa beroperasi di fishing ground perairan Maluku Tenggara, termasuk perairan Kepulauan Aru dan Laut Banda. Kawasan tersebut merupakan wilayah terbaik nomor dua di dunia sebagai areal penangkapan ikan, selevel di bawah perairan Afrika Selatan. Di perairan Maluku, hampir sepanjang tahun para nelayan dapat mengeksploitasi hasil laut.
Kepulauan Maluku Tenggara terbagi dua, Kabupaten dan Kota Madya. Seperti kebanyakan Indonesia Timur, daerah ini memiliki keindahan laut yang luar biasa. Dan yang jelas ia cukup dekat dengan Australia, bayangakan kapal patroli Australia hanya butuh waktu satu hari dari Darwin ke Tual. Karena dekat dengan laut Arafura maka Tual menjadi tujuan dibawanya kapal-kapal pelaku illegal fishing di perairan tersebut dan di perbatasan RI-Australia. Bahkan sampai karam mereka tetap berada di Tual mengingat proses peradilan untuk kasus pencurian sangat lama bisa lebih dari lima tahun.
Karena letaknya yang sangat strategis dan berada di kepulauan Indonesia terluar maka Maluku Tenggara menjadi penyangga NKRI yang kita cintai. Untuk itulah Presiden RI pertama Ir. Soekarno sudah dua kali dalam lawatan kenegaraannya bertandang ke bumi Malra. Dan kunjungan itu sampai hari ini masih membekas dan menorehkan kesan yang begitu dalam di hati para orang-orang tua di Tual, setidaknya itu yang dirasakan oleh Pak Imam ayahanda teman saya Memet [Yang menemani kehadiran saya selama hampir dua bulan di Malra].
Kota Tual ternyata sudah cukup maju. Bahkan show room otomotif dengan mobil Toyota dan sepeda motor Honda juga sudah ada. Pemandangan lain yang sering terlihat adalah masjid, cukup banyak. Bangunan sekolah cukup baik. Tapi tidak terlihat rumah sakit atau klinik di sana. Apalagi pompa bensin. Tapi mobil besar seperti Land Cruiser, Terano, Kijang, ada di sana, entah dari mana mereka dapat bahan bakar.
Hal yang mungkin menjadi ciri khas Tual yakni penjual makanan matang dengan menu seadanya mulai dari tumis daun pepaya, ikan peda, dan penjualnya ditemani oleh lilin. Penjualnya cukup banyak dan mereka berjualan selepas maghrib.
Hotel ada beberapa, hanya satu yang cukup besar. Makanan khas, tidak lain dan tidak bukan sea food. Saat bertanya dengan penduduk asli panganan khas apa yang bisa dijadikan buah tangan, ternyata "kacang dalam botol" jawabannya. Sayang tidak sempat difoto.
Di Malra ini saya mengunjungi dua kecamatan yang berada pada pulau yang berbeda: Kei Kecil dan Kei Besar. Kei Kecil berada pada satu daratan dengan Tual, sedangkan Kei Besar harus menyeberang melintasi teluk. Desa-desa yang kami kunjungi di Kei Kecil memiliki pantai yang indah. Tanpa harus sengaja ke pantai, kami bisa melihat keindahannya dari rumah-rumah penduduk yang kami kunjungi.
Untuk mencapai Kei Besar (ibukotanya Banda Elat) kita bisa menggunakan kapal motor yang ditempuh selama 2 jam atau speed boat selama 45 menit. Saya berangkat menggunakan speed boat seharga Rp. 20.000/orang. Murah meriah... Selama perjalanan kami juga melintasi banyak desa yang berbentuk pulau-pulau. Semua terlihat bersih dan beniiiing. Kita bisa melihat ribuan (atau jutaan?) ikan yang berenang riang di antara karang dan tumbuhan laut. Rasanya seperti di balik kaca sea world... betul-betul amazing....
Saat pulang, kami ketinggalan kapal motor dan speed boat. Kapal dan speed boat hanya berangkat dua kali sehari. Pagi berangkat dari Watdek di Kei Kecil, sore sekitar jam 3 kembali dari Banda Elat, Kei Besar. Kegiatan kami yang cukup banyak di desa-desa tidak memungkinkan kami bisa mengejar speed boat itu. Terpaksalah, kami mencharter speed boat yang cukup mahal, Rp. 600.000. Kami pulang malam hari. Cahaya bulan samar-samar menerangi laut yang gelap. Bintang berpendar-pendar... Sensasi yang sulit digambarkan...
Maluku selalu menyajikan keindahan laut yang menjadikan gambar-gambar penuh warna untuk diabadikan dalam foto. Pantai Ngilngof adalah salah satunya. Selama kehadiran saya di Tual hampir tiap pekan saya kunjungi dan setiap kali kesana, saya selalu terpesona dengan indahnya pantai berpasir putih ini. Ngilngof dalam bahasa setempat berarti Pasir Panjang, disebut demikian karena panjangnya areal pasir putih tersebut sampai meliputi dua desa, dalam kondisi air surut, pantai tersebut bisa dilalui sepanjang kedua desa tersebut. Pantai ini terletak di Pulau Kei Kecil yang merupakan bagian dari Kepulauan Kei di Maluku Tenggara.
Menunggu sunset di pantai tersebut sungguh membawa kedamaian, terutama kalau kunjungan dilakukan di luar waktu libur, serasa pantai milik kita sendiri. Garis pantai yang jauh, pasir putih sehalus dan hampir seputih tepung terigu, permukaan laut yang seperti kaca berwarna biru, benar-benar luar biasa dinikmati.
Kondisi pantai juga sangat bersih karena masyarakat suku Kei memang sangat memelihara alam tempat mereka tinggal, sehingga tidak ada pihak yang mengambil keuntungan secara sepihak atas hasil alam yang mereka miliki. Contoh sederhana, tidak semua desa mengijinkan penggalian pasir untuk kepentingan apapun, lebih baik membeli pasir dari daerah lain dengan harga lebih mahal daripada merusak lingkungan yang mereka diami. Ada hukum adat yang mengatur hal ini yang mereka sebut dengan Sasi. Jika suatu lokasi di laut diberi tanda sasi ini, artinya dalam waktu tertentu, tidak ada seorangpun yang boleh mengeksploitasi isi laut disitu. Setelah masa sashi selesai, secara bergotong royong mereka boleh memanen hasil laut tersebut. Suatu kesadaran pengaturan eksploitasi alam yang patut dicontoh oleh masyarakat lain di Indonesia khususnya.
Pantai tidak terlalu terjamah pembangunan. Hanya ada banyak gubuk-gubuk kecil terbuka yang boleh dipakai bebas oleh siapapun tanpa membayar kepada masyarakat yang sengaja membangunnya. Tidak ada kios-kios yang berjualan cendera mata atau keperluan apapun yang dapat mengganggu pemandangan indah pantai. Hanya ada penduduk desa setempat yang akan menawarkan kelapa muda dan goreng pisang dari rumah mereka. Mudah-mudahan kondisi ini tetap dipertahankan selamanya. Biasanya pengembangan daerah wisata yang dilakukan pemerintah daerah setempat cenderung merusak suasana natural yang ada.
Saya bermimpi suatu saat bisa membawa anak-anak ke tempat ini, agar mereka bisa merasakan indahnya hidup di negara yang memang dikelilingi laut yang luas dengan segala kekayaan dan keindahannya.

Jembatan Watdek yang menghubungkan Kei Kecil dengan Kota Tual

Pantai ngilngof (Pasir Panjang)

Sisi lain pantai Ngilngof

Kenangan saat berkunjung ke desa Langguar Feer, Kei Besar bersama Adam Rahayaan

Bersilaturahim dengan tokoh di Kei Besar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar