Sebuah backpack menggantung di punggung saya, satu backpack mungil tergantung di dada--biasa menyimpan dokumen, tiket, bacaan, mp3—menjadi penumpang bus Damri yang mengantarkan saya berangkat jam setengah tujuh dari Rawamangun. Berangkat lebih awal lebih baik, mengingat hari itu hari Jumat. Belajar dari pengalaman sebelum ini, jadi khawatir macet.
Di terminal 2F bandara Soetta nampak tidak begitu ramai, beberapa penerbangan Garuda dan Merpati ke timur terpampang di layar depan pintu masuk. Saya segera mengeluarkan selembar e-ticket GA 650 (747-400) ke Biak, take off jam 21.50 WIB. rencana transit di Sultan Hasanudin, Makassar dan landing di Frans Kaisiepo jam 5.15 WIT. Senang rasanya membayangkan bisa berkumpul kembali dengan teman-teman di Biak.
Selimut biru berlogo Garuda cukup menghangatkan saat berada di dalam pesawat ditambah menu khas Garuda nasi goreng plus ayam dan teh hangat, ternyata cukup mengusir rasa lapar karena sejak dari rumah belum sarapan. Kini mulailah kantuk menyerang setelah makan. Sementara di luar jendela tampak gelap gulita, tak terlihat apapun dan tentunya bersabar untuk dua jam ke depan. Saat itu jam menunjukkan pukul 1.00 wita, penyelia kabin (purser) di pesawat Garuda Indonesia PK-GZN GA 650 Jakarta-Biak-Jayapura via Makassar membangunkan para penumpang karena pesawat beberapa menit lagi akan landing di Makassar.
Pesawat mulai mendaratkan rodanya. Suara deru dan denyit roda-roda itu benar-benar mengilangkan rasa kantuk. Tibalah saya di Bandara Sultan Hassanudin, bandara yang terbilang masih baru dengan konstruksi baja, tinggi, melengkung ini mulai tampak tak terawat. Di waiting room bangku-bangku tampak sudah banyak yang berwarna lusuh bahkan sebagian ada yang patah. Setengah jam kemudian boarding untuk melanjutkan penerbangan ke Biak dengan waktu tempuh dua jam.
Rasa kantuk masih membungkus namun tidak terasa penyelia kabin (purser) di pesawat udara Garuda Indonesia PK-GZN GA 650 kembali mengumumkan bahwa pesawat akan mendarat di Biak. Boeing 737-400 Garuda itu hanya menyisakan sepertiga penumpang saja. Sebagian besar penumpang sudah turun di Makassar.
Jarum jam menunjukkan angka 5:15 WIT. saya bersegera menunaikan shalat subuh sambil duduk demi menjaga agar subuh tidak kebablasan saat mendarat nanti. Burung besi menjejakkan roda-rodanya di Bandara Frans Kaisiepo tepat waktu.
Landas pacu (runway) Bandara Frans Kaisiepo (BIK) ini cukup didarati oleh pesawat berbadan lebar seperti Boeing 747-400. Pada periode tahun 1996-1998 bandara ini pernah jadi bandara internasional yang diterbangi pesawat MD11 Garuda Indonesia untuk rute penerbangan Jakarta-Denpasar-Biak-Honolulu-Los Angeles. Waktu itu rute ini diterbangi 5 kali seminggu oleh Garuda, tapi terhenti sejak krisis moneter tahun 1997 dan belum dilanjutkan lagi hingga sekarang.
Cuaca subuh di Biak sedikit berawan. Masih gelap tapi mentari sudah menyemburatkan sedikit warna ungu. Sebagian penumpang tujuan Jayapura mengambil tanda pengenal transit. Sementara penumpang tujuan Biak langsung menuju bagian kedatangan dan ambil bagasi. Berhubung tidak ada barang di bagasi maka saya langsung menuju pintu keluar. Begitupun saat keluar bandara, saya tidak perlu celingukan mencari angkot, taksi atau ojek karena Pak Sumardi—shohib saya-- sudah stand by menjemput. Juga tidak perlu repot-repot mencari tempat penginapan karena saya biasa bermalam di rumahnya selama saya di Biak.
Biak terletak di teluk Cendrawasih. Tak heran, jika sebagian besar masyarakatnya adalah nelayan. Mereka sangat bergantung sekali dengan kekayaan alam di bawah laut untuk menghidupi kehidupan mereka sehari-hari. Biak juga terkenal dengan julukan Kota Karang, karena hampir 90 persen pemandangannya adalah karang. Karena berdekatan dengan pantai, maka kota ini juga terkenal dengan cuaca panasnya. Jadi salah satu perbekalan yang tidak boleh dilupakan adalah membawa kacamata hitam, topi, dan jaket. Hal ini tentu saja diperuntukkan bagi yang tak ingin warna kulit berubah menjadi hitam. Tapi, tidak perlu khawatir akan jadi hitam, asal tidak lupa pakai sunblock, agar kulit tidak belang nantinya.
Saat Perang Dunia ke II pulau ini bernilai sangat strategis dalam pelaksanaan penyerangan Tentara Sekutu ke Philipina yang dikuasai tentara Dai Nipon sebagai loncatan menyerang negara Jepang. Tentara sekutu kawasan Pacific dipimpin Jenderal Douglas Mac Arthur dan seperti kita ketahui bahwa akhirnya tentara Jepang menyerah.
Bandara ini sempat menjadi pusat penerbangan ketika masa penjajahan belanda di Indonesia,serta saat masa pembebasan Irian Barat. Landasan pacu yang digunakan sekarang masih merupakan landasan peninggalan Belanda pada masa perang dunia kedua. Panjang Landasan pacu (runway) bandara ini 3.517 m. Landasan pacu berpermukaan aspal ini cukup untuk menerima pendaratan pesawat berbadan lebar sekelas Boeing 747-400.
Konon menurut cerita P. Biak sudah 59 kali ‘pindah tangan’ antara tentara sekutu dan tentara Jepang.Ternyata kemudian tentara sekutu mengetahui rahasia pertahanan tentara Jepang yang bersembunyi di sebuah goa yang sekarang dinamai Goa Jepang. Konon mulut goa itu membentang dari pantai ke arah tengah-tengah pulau. Banyak turis Jepang yang sampai hari ini datang berkunjung ke Biak hanya untuk bersembahyang bagi arwah-arwah tentara Jepang yang gugur di bumi Biak.
Saat semua agenda tuntas dikerjakan, biasanya teman-teman mengajak saya keliling kota Biak. Dan tempat yang paling favourite adalah Goa Jepang ini. Entah sudah berapa kali saya diajak ke tempat ini. Tapi bagi saya tempat ini bagus untuk menjadi renungan perjalanan sejarah bangsa kita ke depan, bahwa perang hanya meninggalkan kerusakan dan tidak membawa kemaslahatan sama sekali, yang tinggal hanya penderitaan.
Mulut goa berdiameter lebih dari 20 meter itu menganga lebar begitu kita menerobos jalan setapak yang masih rimbun dengan pepohonan. Sinar matahari senja yang jatuh di permukaan goa menghasilkan gradasi gelap-terang pada dinding-dinding goa. Terlihat akar-akar pepohonan bergelayut di atas permukaan dengan sisa-sisa embun yang masih membasah. Batuan kapur tegak membentuk sisa-sisa pilar di dinding atas dan di dasar goa. Ketika menuruni puluhan anak tangga menerobos ke dalam goa, lembabnya dinding kapur melambungkan bayangan ketika para serdadu Jepang bertahan di dalam dan mencoba menyiasati kejaran tentara Sekutu.
Inilah wajah goa peninggalan Perang Dunia II yang tersisa di Pulau Biak. Goa ini diyakini sebagai tempat pengendalian logistik pasukan Jepang terletak di wilayah Desa Sumberker, Distrik Samofa, Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua. Lokasi ini hanya berkisar lima kilometer dari pusat kota. Bandara Frans Kaisiepo bisa dilihat tidak berapa jauh dari kawasan ini. Konon sekitar 3.000 tentara Jepang tewas di goa ini karena serangan Sekutu.
Merujuk sejarahnya, goa ini sebelumnya dikenal sebagai Goa Abyab Binsari yang dalam bahasa Biak berarti Goa Nenek. Konon, goa ini memang pernah ditinggali seorang nenek. Peranglah yang kemudian membuatnya menjadi goa persembunyian yang cukup nyaman bagi bala tentara Nippon. Kenyamanan tentara Jepang yang terusik ketika tentara Sekutu dengan operasi intelejen yang disebar ke berbagai penjuru berhasil menemukan mereka. Hantaman bom dan semprotan gas beracun menjadikan goa ini memiliki lubang besar sebagai pembantaian yang meninggalkan peringatan atas kekejaman perang.
Menyusuri jalanan batu berplester selebar dua meteran, kesegaran langsung terasa dari rimbun pepohonan di kanan-kiri. Suara burung sesekali terdengar saat menapakkan langkah semakin jauh meninggalkan pintu masuk. Di lokasi ini juga terlihat tonggak kayu yang dibangun oleh Pemerintah Prefecture Yamagata sebagai penanda warga mereka yang menjadi korban perang di Pulau Biak.












Menuruni anak tangga untuk bisa masuk ke kedalaman goa jepang

Bersama mas Andreas menapaki puluhan anak tangga menuruni goa, suara tetesan air masih sesekali terdengar

Mulut goa berdiameter lebih dari 20 meter itu menganga lebar begitu kita menerobos jalan setapak yang masih rimbun dengan pepohonan. Sinar matahari senja yang jatuh di permukaan goa menghasilkan gradasi gelap-terang pada dinding-dinding goa.

Saat bersembunyi di goa-goa itu, pasukan Jepang diyakini tewas sekitar 3000 oleh serangan sekutu

Sebuah lekukan menyerupai cangkang kerang dengan dua set meja di bawahnya dibangun berseberangan dengan prasasti penunjuk monumen yang dirancang oleh Hiroshi Ogawa ini. Delapan batu karang yang menonjol di depan monumen menjadi pemandangan awal ketika kita membaca tulisan dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Jepang, di monumen ini. Sementara di keluasan monumen terdapat balok marmer yang biasa digunakan sebagai tempat duduk. Semuanya berdiri teratur dalam deretan berjarak sama.

Monumen Perang Dunia II di kawasan Paray terletak di Jalan Raya Bosnik,
Distrik Biak Kota, ini hanya sekitar tujuh kilometer dari pusat Kota Biak.

Tgugu peringatan perang

Sisa-sisa persenjataan yang dikumpulkan di musium tidak jauh dari goa jepang

Pantai indah di tepi jalan raya Bosnik berdekatan dengan tempat monumen dibangun
Di tempat ini juga saya pernah tinggal....:)
BalasHapusNice story and info...
BalasHapus