Tugasku selama dua hari telah rampung, walhasil mudah-mudahan sesuai dengan harapan. Walau lelah dan kepenatan tak bisa dihindari, karena hampir bisa dikatakan sejak ketibaan di kota Ternate sejumlah tugas harus segera diselesaikan. Jadi saat acara berskala provinsi itu resmi ditutup, lega rasanya. Maka kini saatnya melepas kepenatan untuk sekadar berkeliling menikmati keindahan kota Ternate yang amat terkenal itu.
Dengan diantar beberapa orang teman, sasaran utama yang dituju adalah rumah makan karena perut sudah tidak dapat diajak kompromi dan ini adalah kesempatan pertama makan siang di luar. Maka petualangan mencari restauran yang enak dengan view yang indah segera dimulai. Ternyata Ternate memang memiliki banyak pemandangan alam yang indah dan kuliner serba ikan yang membangkitkan selera.
Selesai urusan lambung tengah, kini giliran mengitari pulau Ternate yang menurut perhitungan jarak tempuhnya cuma setengah jam saja dengan berkendaraan mobil. Kami menyusuri jalan Gamalama. Disana banyak penjual asesoris dari perak. Mereka menyebut dengan Besi Putih. Bagus kualitasnya dan harganya cukup murah.
Setelah itu kami menuju daerah Kulaba, di sana terdapat Batu Angus yang merupakan kumpulan batu-batu hitam yang sebenarnya adalah sisa semburan lahar dari gunung Gamalama. Bisa dibayangkan saat itu bagaimana dahsyatnya batu-batu panas itu disemburkan dari perut bumi. Astaghfirullah…mengerikan!
Kemudian kami menuju pantai Sulamadaha, Subhanallah... sungguh indah pemandangannya. Di depannya terlihat P. Hiri, salah satu bagian dari Tidore Kepulauan. Tidak jauh dari situ, terdapat danau Tolire.
Danau Tolire yang berada di bawah kaki Gunung Gamalama ini menyimpan banyak misteri. Menurut cerita masyarakat setempat Danau Tolire terbagi menjadi dua bagian, yakni Tolire besar dan Tolire kecil. Legenda tentang pecahnya danau tersebut dikarenakan kekhilafan seorang ayah kepada anak gadisnya. Sang ayah memperkosa anak gadisnya.
Setelah tragedi memilukan tersebut, terjadi longsor dan danau meluap. Akibatnya, desa Takome tenggelam. Anehnya, setelah surut danau seolah terbagi menjadi dua bagian. Danau Tolire besar diperkirakan sebagai wujud dari sang ayah. Sementara itu, Danau Tolire kecil adalah wujud sang anak. Jarak dari Danau Tolire besar dan Danau Tolire kecil tidak berjauhan. Danau Tolire kecil berada dekat tepi pantai. Airnya payau, karena jaraknya dekat dengan laut, yakni sekitar 50 meter. Bila mengunjungi Danau Tolire besar, otomatis harus melewati Danau Tolire kecil.
Sayangnya, keindahan Danau Tolire besar lebih menggiurkan ketimbang Danau Tolire kecil. Kebanyakan wisatawan dan warga memilih Danau Tolire besar sebagai tempat wisata. Danau Tolire besar menyerupai loyang raksasa, dengan luas sekitar lima hektar dan kedalaman 50 meter. Keunikan lainnya adalah air Danau Tolire besar berwana hijau saat musim panas dan coklat pada waktu hujan.
Untuk bisa menikmati pemandangan di sekitar Danau Tolire besar, pengunjung bisa masuk tanpa bayaran. Hanya saja, jarak dari jalan besar ke Danau Tolire lumayan jauh. Untung, ada jasa tukang ojek di depan pintu masuk Danau Tolire. Cukup membayar Rp 10.000, tukang ojek akan mengantar pulang pergi dari danau ke pintu masuk.
Selain menikmati keindahan danau kita juga bisa mencoba lempar batu--. Pengunjung bisa membeli batu yang sengaja disediakan oleh warga. Satu batu harganya Rp 1.000.-- dengan cara melempar batu ke danau. Dipastikan, batu tidak akan pernah menyentuh permukaan air danau. Batu yang dilempar seperti hilang sebelum sampai ke permukaan danau. Anehkan?
Seusai lempar batu, pengunjung bisa beristirahat sejenak di bawah pepohonan besar. Istirahat di bawah pohon rindang akan bertambah nikmat bila ditemani jagung rebus manis dan teh hangat. Makanan dan minuman bisa dibeli di warung-warung kecil yang ada di sekitar Danau Tolire besar.
Jadi…Danau Tolire merupakan wujud amarah Sang Maha Kuasa atas perilaku hambaNya. Dahulu wilayah ini merupakan perkampungan, suatu malam diadakan pesta rakyat. Seluruh penduduk kampung berpesta dan menenggak minuman keras hingga mabuk. Pengaruh kuat minuman keras ini menyebabkan seorang ayah bersetubuh dengan anak gadisnya sendiri. Petaka pun datang! Perkampungan ini luluh lantak oleh air dan tergenang menjadi sebuah danau. Sang gadis berusaha lari, namun akhirnya tenggelam dan menjadi sebuah danau pula. Danau ini dikenal dengan Danau Tolire Kecil. Danau Tolire Kecil hanya berjarak 1 km dari Danau Tolire.
Selanjutnya kami mampir di pantai Ave dan pantai Bobone Ici, Subhanallah... kami sampai menahan nafas... betapa sempurna ciptaan Allah... pemandangannya sangat bagus dan indah. Sama persis seperti yang terlukis di lembaran uang Rp. 1000, berdampingan dengan P. Tidore tampak Pulau Maitara dengan sangat jelas. Pulau Maitara merupakan penjaga pintu masuk Pulau Ternate dan Pulau Tidore.





Dengan diantar beberapa orang teman, sasaran utama yang dituju adalah rumah makan karena perut sudah tidak dapat diajak kompromi dan ini adalah kesempatan pertama makan siang di luar. Maka petualangan mencari restauran yang enak dengan view yang indah segera dimulai. Ternyata Ternate memang memiliki banyak pemandangan alam yang indah dan kuliner serba ikan yang membangkitkan selera.
Selesai urusan lambung tengah, kini giliran mengitari pulau Ternate yang menurut perhitungan jarak tempuhnya cuma setengah jam saja dengan berkendaraan mobil. Kami menyusuri jalan Gamalama. Disana banyak penjual asesoris dari perak. Mereka menyebut dengan Besi Putih. Bagus kualitasnya dan harganya cukup murah.
Setelah itu kami menuju daerah Kulaba, di sana terdapat Batu Angus yang merupakan kumpulan batu-batu hitam yang sebenarnya adalah sisa semburan lahar dari gunung Gamalama. Bisa dibayangkan saat itu bagaimana dahsyatnya batu-batu panas itu disemburkan dari perut bumi. Astaghfirullah…mengerikan!
Kemudian kami menuju pantai Sulamadaha, Subhanallah... sungguh indah pemandangannya. Di depannya terlihat P. Hiri, salah satu bagian dari Tidore Kepulauan. Tidak jauh dari situ, terdapat danau Tolire.
Danau Tolire yang berada di bawah kaki Gunung Gamalama ini menyimpan banyak misteri. Menurut cerita masyarakat setempat Danau Tolire terbagi menjadi dua bagian, yakni Tolire besar dan Tolire kecil. Legenda tentang pecahnya danau tersebut dikarenakan kekhilafan seorang ayah kepada anak gadisnya. Sang ayah memperkosa anak gadisnya.
Setelah tragedi memilukan tersebut, terjadi longsor dan danau meluap. Akibatnya, desa Takome tenggelam. Anehnya, setelah surut danau seolah terbagi menjadi dua bagian. Danau Tolire besar diperkirakan sebagai wujud dari sang ayah. Sementara itu, Danau Tolire kecil adalah wujud sang anak. Jarak dari Danau Tolire besar dan Danau Tolire kecil tidak berjauhan. Danau Tolire kecil berada dekat tepi pantai. Airnya payau, karena jaraknya dekat dengan laut, yakni sekitar 50 meter. Bila mengunjungi Danau Tolire besar, otomatis harus melewati Danau Tolire kecil.
Sayangnya, keindahan Danau Tolire besar lebih menggiurkan ketimbang Danau Tolire kecil. Kebanyakan wisatawan dan warga memilih Danau Tolire besar sebagai tempat wisata. Danau Tolire besar menyerupai loyang raksasa, dengan luas sekitar lima hektar dan kedalaman 50 meter. Keunikan lainnya adalah air Danau Tolire besar berwana hijau saat musim panas dan coklat pada waktu hujan.
Untuk bisa menikmati pemandangan di sekitar Danau Tolire besar, pengunjung bisa masuk tanpa bayaran. Hanya saja, jarak dari jalan besar ke Danau Tolire lumayan jauh. Untung, ada jasa tukang ojek di depan pintu masuk Danau Tolire. Cukup membayar Rp 10.000, tukang ojek akan mengantar pulang pergi dari danau ke pintu masuk.
Selain menikmati keindahan danau kita juga bisa mencoba lempar batu--. Pengunjung bisa membeli batu yang sengaja disediakan oleh warga. Satu batu harganya Rp 1.000.-- dengan cara melempar batu ke danau. Dipastikan, batu tidak akan pernah menyentuh permukaan air danau. Batu yang dilempar seperti hilang sebelum sampai ke permukaan danau. Anehkan?
Seusai lempar batu, pengunjung bisa beristirahat sejenak di bawah pepohonan besar. Istirahat di bawah pohon rindang akan bertambah nikmat bila ditemani jagung rebus manis dan teh hangat. Makanan dan minuman bisa dibeli di warung-warung kecil yang ada di sekitar Danau Tolire besar.
Jadi…Danau Tolire merupakan wujud amarah Sang Maha Kuasa atas perilaku hambaNya. Dahulu wilayah ini merupakan perkampungan, suatu malam diadakan pesta rakyat. Seluruh penduduk kampung berpesta dan menenggak minuman keras hingga mabuk. Pengaruh kuat minuman keras ini menyebabkan seorang ayah bersetubuh dengan anak gadisnya sendiri. Petaka pun datang! Perkampungan ini luluh lantak oleh air dan tergenang menjadi sebuah danau. Sang gadis berusaha lari, namun akhirnya tenggelam dan menjadi sebuah danau pula. Danau ini dikenal dengan Danau Tolire Kecil. Danau Tolire Kecil hanya berjarak 1 km dari Danau Tolire.
Selanjutnya kami mampir di pantai Ave dan pantai Bobone Ici, Subhanallah... kami sampai menahan nafas... betapa sempurna ciptaan Allah... pemandangannya sangat bagus dan indah. Sama persis seperti yang terlukis di lembaran uang Rp. 1000, berdampingan dengan P. Tidore tampak Pulau Maitara dengan sangat jelas. Pulau Maitara merupakan penjaga pintu masuk Pulau Ternate dan Pulau Tidore.

Danau Tolire yg penuh misteri

Hasil jepretan Hp

Tolire tampak dari udara seperti loyang raksasa

Tolire Besar dan Tolire Kecil dijepret saat pesawat Wings Air melintas

Bersama Bahrin sekadar menandai jejak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar