Saya bangun dengan berat hati. Sedari kemarin malamnya saya memang sudah menarik napas panjang. Rasanya kurang lama di Biak. Setelah singgah dua malam lalu melanjutkan perjalanan dari Biak ke Nabire dengan menggunakan pesawat Dornier 328 milik Express Air, setelah check in dan timbang badan (badan penumpang juga ditimbang bukan hanya barang) masuk ke ruang tunggu, sambil nunggu pesawat datang --flight ke-2- saya menyempatkan foto-foto dulu yang di apron, ada pesawat Tri.M.G, Cassa tapi tidak tahu jenis dan modelnya.
Buat yang sering ke daerah pedalaman atau pelosok Papua, tentunya tidak asing dengan beraneka pesawat kecil berbaling-baling (propeller). Karena inilah transportasi yang dapat menjangkau wilayah pegunungan di Papua. Dari bandara Frans Kaisiepo Biak saya kembali dapat kesempatan naik pesawat jenis propeller Dornier 328. Bagi yang sudah terbiasa naik pesawat jenis Boeing 737 mungkin agak grogi! Tapi ternyata pesawat berkapasitas penumpang 30 orang ini asyik juga, terbang rendah tapi cepat, Biak - Nabire cuma 1 jam. Walaupun pesawat ini kecil, tapi kabinnya luas dibanding pesawat-pesawat besar umum lainnya. Tapi sempat deg-degan juga pas melihat baling-balingnya! Saya membayangkan kalau tiba-tiba ngadat berhenti di tengah penerbangan! Tapi konon tipe pesawat ini bisa terbang melayang sekalipun mesinnya mati.
Pesawat membumbung di udara, tapi pandangan saya masih ke daratan. Saat melintas di atas pantai, saya selalu mengagumi kebesaran Allah yang telah membentangkan alam yang indah nun jauh di bawah sana. Sambil menikmati pemandangan yang ‘luar biasa’ saya dengan tak putus-putusnya melafalkan tasbih…subhanallah!!!
Hari Jumat tanggal 18 Pebruari jam 9.30 wit saya tiba di bandara Nabire. Biak-Nabire memakan waktu 1 jam (pake pesawat dornier) dengan catatan jika cuaca sedang bagus. Begitu turun dari pesawat, bila cuaca tidak mendung, bersiaplah untuk merasakan sengatan matahari yang lebih panas. Begitupula hari-hari selanjutnya. Kota Nabire merupakan daerah pantai, maka terik matahari cukup menyengat panas. Hal yang sama juga terjadi di Bandara Pantai MAF.
Setelah penumpang mendarat dengan selamat, di luar bandara sudah menunggu alat transportasi darat. Ojek berjajar antri. Angkutan kota (masyarakat menyebutnya taxi) juga berjajar siap mengantar penumpang ke tempat tujuan. Pembayaran bisa dengan sistem carter atau menyesuaikan trayek angkutan.
Ketika memasuki pintu-pintu utama kota kecil ini akan langsung terasa suasana kota yang plural, karena Nabire adalah Indonesia kecil (ada berbagai suku). Bila pertama kali mendarat di pulau ini, pelan-pelan bayangan awal tentang Papua mungkin akan berubah. Yang banyak ditemui di jalan-jalan raya bukanlah wajah-wajah berkulit gelap dan berambut ikal. Di pelabuhan dan bandara berseliweran orang dari suku yang berbeda. Entah Batak, Flores, Timor, Jawa atau Toraja. Dua suku terakhir ini tidak mudah dibedakan hanya dengan melihat sekilas penampakan wajah. Situasi plural inilah yang semakin membuat --setidaknya bagi penulis kehidupan di Papua (baca Nabire)-- kaya untuk digali. Perbedaan menjadi kekayaan, sekaligus keadaan yang rentan terjadinya pergesekan.
Nama Nabire berasal dari kata Navirei. Dalam bahasa suku Yerisiam, berarti tempat yang ditinggalkan. Makna ditinggalkan merujuk kepada kebiasaan perang suku di abad sembilan belas.
Di masa itu, perang suku memang tak terelakkan, khususnya kelompok masyarakat dari suku Yerisiam dan Hundura. Mereka berperang dengan banyak pertimbangan, mulai batas wilayah sampai kedaulatan tanah adat. Hawa perang mereda, puncaknya pada tahun 1870 masyarakat adat suku Hundura dan Yerisiam mengadakan pesta bersama di suatu tempat yang bernama Navirei, sekaligus mengakhiri kebiasaan perang.
Dalam bahasa Yerisiam, Navirei berarti tempat yang ditinggalkan. Penamaan itu sekaligus mencerminkan tekad kedua suku untuk meninggalkan berbagai bentuk peperangan. Dengan mengusung nama Navirei, suku Hundura dan Yerisiam menanggalkan senjata, serta menjalin kesepakatan damai.
Sebelum menjadi Nabire, daerah ini bernama Daerah Tingkat II Kabupaten Paniai. Karena terlalu luas, sebagian wilayah Daerah Tingkat II Kabupaten Paniai dimekarkan menjadi Kabupaten Puncak Jaya dan Kabupaten Paniai. Sejalan dengan aspirasi yang berkembang di masyarakat yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah RI Nomor 52 Tahun 1996, daerah Paniai berubah nama menjadi Nabire. Ibu kotanya yang semula di Enarotali pindah ke Kota Nabire.
Sampai saat ini, kabupaten seluas 15.358 kilo meter persegi ini dihuni 160.882 penduduk. Dari perbandingan kedua angka tersebut diketahui bahwa tingkat kepadatan penduduk rata-rata 10,48 per kilo meter persegi. Sedangkan laju pertumbuhan penduduknya sekitar 2,59 % per tahun.
Di sebelah utara, Nabire berbatasan dengan Kabupaten Yapen, sebelah timur dengan Kabupaten Paniai dan Waropen, sebelah selatan dengan Kabupaten Kaimana dan Mimika, sementara sebelah barat dengan Kabupaten Teluk Wondama dan Kaimana Provinsi Irian Jaya Barat. Secara administrativ, kabupaten ini terbagi menjadi 12 distrik dan 156 desa, dengan beragam suku di dalamnya.
Masing-masing suku mendiami dua lokasi utama, pantai dan pedalaman. Yang tinggal di pantai, diantaranya suku Amuku, Umar, Yerisiam, Kamuda, Wate,Mambor,Masipawa, Napan, Weinami, Makimi, dan suku Burate. Sementara yang tinggal di pedalaman adalah suku Ekari,Siriwo,dan Mapiase. Selain bertani, masyarakat setempat juga bermatapencaharian sebagai nelayan.
Ada dua pintu untuk bisa masuk ke kota kecil Nabire pertama sebuah bandar udara dan sebuah pelabuhan. Dua pintu masuk ini menjadi tempat keluar masuknya orang-orang dan barang-barang di Nabire. Bandar udara menghubungkan Nabire dengan kota-kota di sekitar Papua, misalnya Jayapura, Biak, Makasar, Manado, untuk selanjutnya Bali atau Jawa. Bandar udara juga menghubungkan Nabire dengan daerah-daerah pedalaman. Pesawat-pesawat kecil, helikopter menjadi sarana penghubungnya. Sementara itu, pelabuhan menjadi penghubung Nabire dengan kota-kota di Papua dan Jawa, bahkan langsung menghubungkan dengan kota Jakarta.
Selain dua pintu masuk tersebut. Sebenarnya ada banyak jalan untuk sampai ke tempat tujuan. Ada banyak cara untuk mempercepat langkah dan mendekatkan jarak. Entah cara yang berbudi atau tidak. Konon, di Nabire ini ada pintu-pintu gerbang lain yang tidak sembarangan orang memiliki akses untuk menggunakannya. Di tempat-tempat tertentu, konon, ada tempat bagi kapal-kapal besar merapat, pesawat helikopter mendarat. Yang pasti, mereka yang memiliki fasilitas ini adalah orang berduit atau orang ‘luar biasa’ yang berbeda dengan rakyat kebanyakan.
Bandar udara di Nabire jangan dibayangkan seperti Bandar Udara Sukarno-Hatta atau bandar udara yang cukup terkenal di kota-kota besar. Bandar udara ini sederhana, untuk menghindari sebutan kecil. Para penumpang maupun pengantar bisa lalu lalang di ruang tunggu. Bahkan, konon, anak-anak kecil, bahkan hewan-hewan piaraan pun kadang dibiarkan berseliweran di sekitar landasan. Untuk hal satu ini memang tidak mengherankan. Di beberapa bandara di Indonesia hal ini masih sering terjadi.
Bandara Nabire lebih akrab disebut Bandara Pantai MAF (Mission Aviation Fellowship). Entah sebutan ini tercatat resmi atau hanya sebutan dari masyarakat Nabire. Bahkan, sebagian masyarakat terlihat bingung ketika ditanya apa nama bandara ini. Nama bandara ini sebenarnya adalah nama bandara kecil yang ada di samping bandara induk. Bandar udara kecil ini disebut Bandara MAF. Bandara MAF milik MAF (Mission Aviation Fellowship) yang dikhususkan bagi pesawat-pesawat kecil milik MAF, pesawat misi milik Gereja Kristen. MAF ini menjadi penghubung kota-kota di Papua dengan pedalaman. Awalnya secara khusus diperuntukkan bagi pelayanan Gereja.
Pesawat-pesawat kecil, seperti jenis Pilatus, menjadi penghubung kota Nabire dan kota-kota lain. Selain pesawat MAF tadi, juga ada AMA (Association Mission Aviation), pesawat milik keuskupan. Baru-baru juga muncul Sussiair, Aviastar, Ekspress Air dan juga Merpati.
Disebut Bandar Udara Pantai MAF karena berada di tepian pantai. Pantai yang telah ditutup tanggul untuk menghindari air pasang meluber ini disebut pantai MAF karena berdekatan dengan bandara MAF. Antara pantai dan bandara hanya dipisahkan oleh jalan raya standar kota kecil dengan lebar tak lebih dari enam meter. Maka, sebelum sebuah pesawat mendarat, sedikit demi sedikit pilot akan mengurangi ketinggian terbang pesawat di atas pantai MAF. Dari atas sana terlihat kota kecil Nabire.
Pintu gerbang kedua adalah pelabuhan. Disebut Pelabuhan Samabusa. Tempatnya di daerah Samabusa, jauh ke arah timur laut dari kota atau bandar udara tadi (mengandaikan bahwa yang menulis tahu arah mata ). Dari kota, diperlukan waktu kurang lebih 45 menit untuk sampai di Pelabuhan Samabusa. Transportasi laut yang lebih murah dibanding udara membuat pelabuhan menjadi tempat yang lebih sibuk pada waktu kapal sedang berlabuh. Tetapi, bila tidak ada kapal yang berlabuh, pelabuhan ini ibarat pelabuhan tak berpenghuni. Bangku-bangku kosong dan kontainer-kontainer berjajar rapi. Hanya beberapa anjing yang mencoba berkeliaran, mengais-ais makanan di tempat sampah.
Kapal-kapal besar singgah di pelabuhan ini. Kapal-kapal Ngapulu, Labobar, dan Doro Londa setiap kali singgah menurunkan ribuan penumpang. Para penumpang berasal dari berbagai daerah di Jawa, Sulawesi, dan Papua bagian barat. Yang semakin membuat pelabuhan hiruk pikuk, setiap penumpang sepertinya berusaha membawa barang sebanyak-banyaknya dari luar pulau. Apalagi para pedagang. Maklum, bukan hanya barang produksi pabrik yang didatangkan dari luar pulau, bawang merah, bawang putih, telur ayam pun didatangkan dari Surabaya atau Sulawesi.
Nabire… disini saya bisa merasakan arti penting hidup berdampingan secara damai. Apalagi bila Desember tiba maka sebagai bulan yang disucikan oleh teman-teman kristen. Hampir tiap hari lagu-lagu rohani berkumandang. Bahkan ada yang memasang sound system di atas bukit belakang penginapan. Berisik banget…tapi mau gimana lagi? Tetep sabar dan jaga toleransi, itulah pesan yang selalu tertanam dalam hati ini. Penduduk asli disini (istilahnya nogei) cukup ramah, tapi jangan sekali-kali menyulut api permusuhan dengan mereka bisa runyam akibatnya. Kasus di Waghete bisa menjadi rujukan, pos polisi dibakar dan satu-satunya jalan darat yang menghubungkan Enarotali dan Waghete diputus. Semua akibat kasus penembakan terhadap penduduk sipil yang dilakukan oleh aparat. Rentan sekali terjadi chaos, makanya seorang teman di Biak mengingatkan "jangan sampai buat masalah, sebisa mungkin kita menahan diri walaupun kita merasa benar."

Masyarakat menyebutnya bandar udara Maf

Nabire dari atas awan

di dalam dornier 328

Penataan kota Nabire lumyan rapi

Pantai Maf menjelang senja

Silaturahim dengan masyarakat transmigran SP C Bumi Mulia Nabire

Silaturahim di desa marga Jaya

Masyarakat trans di Uwapa

Mencicipi jeruk Nabire langsung dari pohonnya

Lahan wakaf pembangunan mesjid di nabire

Sudah hampir 3 tahun, pembangunan masjid belum rampung....
menunggu uluran para dermawan


Tampak dalam masjid Al Munajah Desa Marga Jaya Distrik Uwapa Nabire Papua







































