Rabu, 27 April 2011

Coretan Perjalanan [11] Nabire

Saya bangun dengan berat hati. Sedari kemarin malamnya saya memang sudah menarik napas panjang. Rasanya kurang lama di Biak. Setelah singgah dua malam lalu melanjutkan perjalanan dari Biak ke Nabire dengan menggunakan pesawat Dornier 328 milik Express Air, setelah check in dan timbang badan (badan penumpang juga ditimbang bukan hanya barang) masuk ke ruang tunggu, sambil nunggu pesawat datang --flight ke-2- saya menyempatkan foto-foto dulu yang di apron, ada pesawat Tri.M.G, Cassa tapi tidak tahu jenis dan modelnya.

Buat yang sering ke daerah pedalaman atau pelosok Papua, tentunya tidak asing dengan beraneka pesawat kecil berbaling-baling (propeller). Karena inilah transportasi yang dapat menjangkau wilayah pegunungan di Papua. Dari bandara Frans Kaisiepo Biak saya kembali dapat kesempatan naik pesawat jenis propeller Dornier 328. Bagi yang sudah terbiasa naik pesawat jenis Boeing 737 mungkin agak grogi! Tapi ternyata pesawat berkapasitas penumpang 30 orang ini asyik juga, terbang rendah tapi cepat, Biak - Nabire cuma 1 jam. Walaupun pesawat ini kecil, tapi kabinnya luas dibanding pesawat-pesawat besar umum lainnya. Tapi sempat deg-degan juga pas melihat baling-balingnya! Saya membayangkan kalau tiba-tiba ngadat berhenti di tengah penerbangan! Tapi konon tipe pesawat ini bisa terbang melayang sekalipun mesinnya mati.

Pesawat membumbung di udara, tapi pandangan saya masih ke daratan. Saat melintas di atas pantai, saya selalu mengagumi kebesaran Allah yang telah membentangkan alam yang indah nun jauh di bawah sana. Sambil menikmati pemandangan yang ‘luar biasa’ saya dengan tak putus-putusnya melafalkan tasbih…subhanallah!!!

Hari Jumat tanggal 18 Pebruari jam 9.30 wit saya tiba di bandara Nabire. Biak-Nabire memakan waktu 1 jam (pake pesawat dornier) dengan catatan jika cuaca sedang bagus. Begitu turun dari pesawat, bila cuaca tidak mendung, bersiaplah untuk merasakan sengatan matahari yang lebih panas. Begitupula hari-hari selanjutnya. Kota Nabire merupakan daerah pantai, maka terik matahari cukup menyengat panas. Hal yang sama juga terjadi di Bandara Pantai MAF.

Setelah penumpang mendarat dengan selamat, di luar bandara sudah menunggu alat transportasi darat. Ojek berjajar antri. Angkutan kota (masyarakat menyebutnya taxi) juga berjajar siap mengantar penumpang ke tempat tujuan. Pembayaran bisa dengan sistem carter atau menyesuaikan trayek angkutan.

Ketika memasuki pintu-pintu utama kota kecil ini akan langsung terasa suasana kota yang plural, karena Nabire adalah Indonesia kecil (ada berbagai suku). Bila pertama kali mendarat di pulau ini, pelan-pelan bayangan awal tentang Papua mungkin akan berubah. Yang banyak ditemui di jalan-jalan raya bukanlah wajah-wajah berkulit gelap dan berambut ikal. Di pelabuhan dan bandara berseliweran orang dari suku yang berbeda. Entah Batak, Flores, Timor, Jawa atau Toraja. Dua suku terakhir ini tidak mudah dibedakan hanya dengan melihat sekilas penampakan wajah. Situasi plural inilah yang semakin membuat --setidaknya bagi penulis kehidupan di Papua (baca Nabire)-- kaya untuk digali. Perbedaan menjadi kekayaan, sekaligus keadaan yang rentan terjadinya pergesekan.

Nama Nabire berasal dari kata Navirei. Dalam bahasa suku Yerisiam, berarti tempat yang ditinggalkan. Makna ditinggalkan merujuk kepada kebiasaan perang suku di abad sembilan belas.

Di masa itu, perang suku memang tak terelakkan, khususnya kelompok masyarakat dari suku Yerisiam dan Hundura. Mereka berperang dengan banyak pertimbangan, mulai batas wilayah sampai kedaulatan tanah adat. Hawa perang mereda, puncaknya pada tahun 1870 masyarakat adat suku Hundura dan Yerisiam mengadakan pesta bersama di suatu tempat yang bernama Navirei, sekaligus mengakhiri kebiasaan perang.

Dalam bahasa Yerisiam, Navirei berarti tempat yang ditinggalkan. Penamaan itu sekaligus mencerminkan tekad kedua suku untuk meninggalkan berbagai bentuk peperangan. Dengan mengusung nama Navirei, suku Hundura dan Yerisiam menanggalkan senjata, serta menjalin kesepakatan damai.

Sebelum menjadi Nabire, daerah ini bernama Daerah Tingkat II Kabupaten Paniai. Karena terlalu luas, sebagian wilayah Daerah Tingkat II Kabupaten Paniai dimekarkan menjadi Kabupaten Puncak Jaya dan Kabupaten Paniai. Sejalan dengan aspirasi yang berkembang di masyarakat yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah RI Nomor 52 Tahun 1996, daerah Paniai berubah nama menjadi Nabire. Ibu kotanya yang semula di Enarotali pindah ke Kota Nabire.

Sampai saat ini, kabupaten seluas 15.358 kilo meter persegi ini dihuni 160.882 penduduk. Dari perbandingan kedua angka tersebut diketahui bahwa tingkat kepadatan penduduk rata-rata 10,48 per kilo meter persegi. Sedangkan laju pertumbuhan penduduknya sekitar 2,59 % per tahun.

Di sebelah utara, Nabire berbatasan dengan Kabupaten Yapen, sebelah timur dengan Kabupaten Paniai dan Waropen, sebelah selatan dengan Kabupaten Kaimana dan Mimika, sementara sebelah barat dengan Kabupaten Teluk Wondama dan Kaimana Provinsi Irian Jaya Barat. Secara administrativ, kabupaten ini terbagi menjadi 12 distrik dan 156 desa, dengan beragam suku di dalamnya.

Masing-masing suku mendiami dua lokasi utama, pantai dan pedalaman. Yang tinggal di pantai, diantaranya suku Amuku, Umar, Yerisiam, Kamuda, Wate,Mambor,Masipawa, Napan, Weinami, Makimi, dan suku Burate. Sementara yang tinggal di pedalaman adalah suku Ekari,Siriwo,dan Mapiase. Selain bertani, masyarakat setempat juga bermatapencaharian sebagai nelayan.

Ada dua pintu untuk bisa masuk ke kota kecil Nabire pertama sebuah bandar udara dan sebuah pelabuhan. Dua pintu masuk ini menjadi tempat keluar masuknya orang-orang dan barang-barang di Nabire. Bandar udara menghubungkan Nabire dengan kota-kota di sekitar Papua, misalnya Jayapura, Biak, Makasar, Manado, untuk selanjutnya Bali atau Jawa. Bandar udara juga menghubungkan Nabire dengan daerah-daerah pedalaman. Pesawat-pesawat kecil, helikopter menjadi sarana penghubungnya. Sementara itu, pelabuhan menjadi penghubung Nabire dengan kota-kota di Papua dan Jawa, bahkan langsung menghubungkan dengan kota Jakarta.

Selain dua pintu masuk tersebut. Sebenarnya ada banyak jalan untuk sampai ke tempat tujuan. Ada banyak cara untuk mempercepat langkah dan mendekatkan jarak. Entah cara yang berbudi atau tidak. Konon, di Nabire ini ada pintu-pintu gerbang lain yang tidak sembarangan orang memiliki akses untuk menggunakannya. Di tempat-tempat tertentu, konon, ada tempat bagi kapal-kapal besar merapat, pesawat helikopter mendarat. Yang pasti, mereka yang memiliki fasilitas ini adalah orang berduit atau orang ‘luar biasa’ yang berbeda dengan rakyat kebanyakan.

Bandar udara di Nabire jangan dibayangkan seperti Bandar Udara Sukarno-Hatta atau bandar udara yang cukup terkenal di kota-kota besar. Bandar udara ini sederhana, untuk menghindari sebutan kecil. Para penumpang maupun pengantar bisa lalu lalang di ruang tunggu. Bahkan, konon, anak-anak kecil, bahkan hewan-hewan piaraan pun kadang dibiarkan berseliweran di sekitar landasan. Untuk hal satu ini memang tidak mengherankan. Di beberapa bandara di Indonesia hal ini masih sering terjadi.

Bandara Nabire lebih akrab disebut Bandara Pantai MAF (Mission Aviation Fellowship). Entah sebutan ini tercatat resmi atau hanya sebutan dari masyarakat Nabire. Bahkan, sebagian masyarakat terlihat bingung ketika ditanya apa nama bandara ini. Nama bandara ini sebenarnya adalah nama bandara kecil yang ada di samping bandara induk. Bandar udara kecil ini disebut Bandara MAF. Bandara MAF milik MAF (Mission Aviation Fellowship) yang dikhususkan bagi pesawat-pesawat kecil milik MAF, pesawat misi milik Gereja Kristen. MAF ini menjadi penghubung kota-kota di Papua dengan pedalaman. Awalnya secara khusus diperuntukkan bagi pelayanan Gereja.

Pesawat-pesawat kecil, seperti jenis Pilatus, menjadi penghubung kota Nabire dan kota-kota lain. Selain pesawat MAF tadi, juga ada AMA (Association Mission Aviation), pesawat milik keuskupan. Baru-baru juga muncul Sussiair, Aviastar, Ekspress Air dan juga Merpati.

Disebut Bandar Udara Pantai MAF karena berada di tepian pantai. Pantai yang telah ditutup tanggul untuk menghindari air pasang meluber ini disebut pantai MAF karena berdekatan dengan bandara MAF. Antara pantai dan bandara hanya dipisahkan oleh jalan raya standar kota kecil dengan lebar tak lebih dari enam meter. Maka, sebelum sebuah pesawat mendarat, sedikit demi sedikit pilot akan mengurangi ketinggian terbang pesawat di atas pantai MAF. Dari atas sana terlihat kota kecil Nabire.

Pintu gerbang kedua adalah pelabuhan. Disebut Pelabuhan Samabusa. Tempatnya di daerah Samabusa, jauh ke arah timur laut dari kota atau bandar udara tadi (mengandaikan bahwa yang menulis tahu arah mata ). Dari kota, diperlukan waktu kurang lebih 45 menit untuk sampai di Pelabuhan Samabusa. Transportasi laut yang lebih murah dibanding udara membuat pelabuhan menjadi tempat yang lebih sibuk pada waktu kapal sedang berlabuh. Tetapi, bila tidak ada kapal yang berlabuh, pelabuhan ini ibarat pelabuhan tak berpenghuni. Bangku-bangku kosong dan kontainer-kontainer berjajar rapi. Hanya beberapa anjing yang mencoba berkeliaran, mengais-ais makanan di tempat sampah.

Kapal-kapal besar singgah di pelabuhan ini. Kapal-kapal Ngapulu, Labobar, dan Doro Londa setiap kali singgah menurunkan ribuan penumpang. Para penumpang berasal dari berbagai daerah di Jawa, Sulawesi, dan Papua bagian barat. Yang semakin membuat pelabuhan hiruk pikuk, setiap penumpang sepertinya berusaha membawa barang sebanyak-banyaknya dari luar pulau. Apalagi para pedagang. Maklum, bukan hanya barang produksi pabrik yang didatangkan dari luar pulau, bawang merah, bawang putih, telur ayam pun didatangkan dari Surabaya atau Sulawesi.

Nabire… disini saya bisa merasakan arti penting hidup berdampingan secara damai. Apalagi bila Desember tiba maka sebagai bulan yang disucikan oleh teman-teman kristen. Hampir tiap hari lagu-lagu rohani berkumandang. Bahkan ada yang memasang sound system di atas bukit belakang penginapan. Berisik banget…tapi mau gimana lagi? Tetep sabar dan jaga toleransi, itulah pesan yang selalu tertanam dalam hati ini. Penduduk asli disini (istilahnya nogei) cukup ramah, tapi jangan sekali-kali menyulut api permusuhan dengan mereka bisa runyam akibatnya. Kasus di Waghete bisa menjadi rujukan, pos polisi dibakar dan satu-satunya jalan darat yang menghubungkan Enarotali dan Waghete diputus. Semua akibat kasus penembakan terhadap penduduk sipil yang dilakukan oleh aparat. Rentan sekali terjadi chaos, makanya seorang teman di Biak mengingatkan "jangan sampai buat masalah, sebisa mungkin kita menahan diri walaupun kita merasa benar."


 Masyarakat menyebutnya bandar udara Maf

Nabire dari atas awan

di dalam dornier 328

Penataan kota Nabire lumyan rapi

Pantai Maf menjelang senja

Silaturahim dengan masyarakat transmigran SP C Bumi Mulia Nabire

Silaturahim di desa marga Jaya

Masyarakat trans di Uwapa

Mencicipi jeruk Nabire langsung dari pohonnya

Lahan wakaf pembangunan mesjid di nabire

Sudah hampir 3 tahun, pembangunan masjid belum rampung....
menunggu uluran para dermawan



Tampak dalam masjid Al Munajah Desa Marga Jaya Distrik Uwapa Nabire Papua

Selasa, 26 April 2011

Coretan Perjalanan [10] Biak Numfor

Sebuah backpack menggantung di punggung saya, satu backpack mungil tergantung di dada--biasa menyimpan dokumen, tiket, bacaan, mp3—menjadi penumpang bus Damri yang mengantarkan saya berangkat jam setengah tujuh dari Rawamangun. Berangkat lebih awal lebih baik, mengingat hari itu hari Jumat. Belajar dari pengalaman sebelum ini, jadi khawatir macet.

Di terminal 2F bandara Soetta nampak tidak begitu ramai, beberapa penerbangan Garuda dan Merpati ke timur terpampang di layar depan pintu masuk. Saya segera mengeluarkan selembar e-ticket GA 650 (747-400) ke Biak, take off jam 21.50 WIB. rencana transit di Sultan Hasanudin, Makassar dan landing di Frans Kaisiepo jam 5.15 WIT. Senang rasanya membayangkan bisa berkumpul kembali dengan teman-teman di Biak.

Selimut biru berlogo Garuda cukup menghangatkan saat berada di dalam pesawat ditambah menu khas Garuda nasi goreng plus ayam dan teh hangat, ternyata cukup mengusir rasa lapar karena sejak dari rumah belum sarapan. Kini mulailah kantuk menyerang setelah makan. Sementara di luar jendela tampak gelap gulita, tak terlihat apapun dan tentunya bersabar untuk dua jam ke depan. Saat itu jam menunjukkan pukul 1.00 wita, penyelia kabin (purser) di pesawat Garuda Indonesia PK-GZN GA 650 Jakarta-Biak-Jayapura via Makassar membangunkan para penumpang karena pesawat beberapa menit lagi akan landing di Makassar.

Pesawat mulai mendaratkan rodanya. Suara deru dan denyit roda-roda itu benar-benar mengilangkan rasa kantuk. Tibalah saya di Bandara Sultan Hassanudin, bandara yang terbilang masih baru dengan konstruksi baja, tinggi, melengkung ini mulai tampak tak terawat. Di waiting room bangku-bangku tampak sudah banyak yang berwarna lusuh bahkan sebagian ada yang patah. Setengah jam kemudian boarding untuk melanjutkan penerbangan ke Biak dengan waktu tempuh dua jam.

Rasa kantuk masih membungkus namun tidak terasa penyelia kabin (purser) di pesawat udara Garuda Indonesia PK-GZN GA 650 kembali mengumumkan bahwa pesawat akan mendarat di Biak. Boeing 737-400 Garuda itu hanya menyisakan sepertiga penumpang saja. Sebagian besar penumpang sudah turun di Makassar.

Jarum jam menunjukkan angka 5:15 WIT. saya bersegera menunaikan shalat subuh sambil duduk demi menjaga agar subuh tidak kebablasan saat mendarat nanti. Burung besi menjejakkan roda-rodanya di Bandara Frans Kaisiepo tepat waktu.

Landas pacu (runway) Bandara Frans Kaisiepo (BIK) ini cukup didarati oleh pesawat berbadan lebar seperti Boeing 747-400. Pada periode tahun 1996-1998 bandara ini pernah jadi bandara internasional yang diterbangi pesawat MD11 Garuda Indonesia untuk rute penerbangan Jakarta-Denpasar-Biak-Honolulu-Los Angeles. Waktu itu rute ini diterbangi 5 kali seminggu oleh Garuda, tapi terhenti sejak krisis moneter tahun 1997 dan belum dilanjutkan lagi hingga sekarang.

Cuaca subuh di Biak sedikit berawan. Masih gelap tapi mentari sudah menyemburatkan sedikit warna ungu. Sebagian penumpang tujuan Jayapura mengambil tanda pengenal transit. Sementara penumpang tujuan Biak langsung menuju bagian kedatangan dan ambil bagasi. Berhubung tidak ada barang di bagasi maka saya langsung menuju pintu keluar. Begitupun saat keluar bandara, saya tidak perlu celingukan mencari angkot, taksi atau ojek karena Pak Sumardi—shohib saya-- sudah stand by menjemput. Juga tidak perlu repot-repot mencari tempat penginapan karena saya biasa bermalam di rumahnya selama saya di Biak.

Biak terletak di teluk Cendrawasih. Tak heran, jika sebagian besar masyarakatnya adalah nelayan. Mereka sangat bergantung sekali dengan kekayaan alam di bawah laut untuk menghidupi kehidupan mereka sehari-hari. Biak juga terkenal dengan julukan Kota Karang, karena hampir 90 persen pemandangannya adalah karang. Karena berdekatan dengan pantai, maka kota ini juga terkenal dengan cuaca panasnya. Jadi salah satu perbekalan yang tidak boleh dilupakan adalah membawa kacamata hitam, topi, dan jaket. Hal ini tentu saja diperuntukkan bagi yang tak ingin warna kulit berubah menjadi hitam. Tapi, tidak perlu khawatir akan jadi hitam, asal tidak lupa pakai sunblock, agar kulit tidak belang nantinya.

Saat Perang Dunia ke II pulau ini bernilai sangat strategis dalam pelaksanaan penyerangan Tentara Sekutu ke Philipina yang dikuasai tentara Dai Nipon sebagai loncatan menyerang negara Jepang. Tentara sekutu kawasan Pacific dipimpin Jenderal Douglas Mac Arthur dan seperti kita ketahui bahwa akhirnya tentara Jepang menyerah.

Bandara ini sempat menjadi pusat penerbangan ketika masa penjajahan belanda di Indonesia,serta saat masa pembebasan Irian Barat. Landasan pacu yang digunakan sekarang masih merupakan landasan peninggalan Belanda pada masa perang dunia kedua. Panjang Landasan pacu (runway) bandara ini 3.517 m. Landasan pacu berpermukaan aspal ini cukup untuk menerima pendaratan pesawat berbadan lebar sekelas Boeing 747-400.

Konon menurut cerita P. Biak sudah 59 kali ‘pindah tangan’ antara tentara sekutu dan tentara Jepang.Ternyata kemudian tentara sekutu mengetahui rahasia pertahanan tentara Jepang yang bersembunyi di sebuah goa yang sekarang dinamai Goa Jepang. Konon mulut goa itu membentang dari pantai ke arah tengah-tengah pulau. Banyak turis Jepang yang sampai hari ini datang berkunjung ke Biak hanya untuk bersembahyang bagi arwah-arwah tentara Jepang yang gugur di bumi Biak.

Saat semua agenda tuntas dikerjakan, biasanya teman-teman mengajak saya keliling kota Biak. Dan tempat yang paling favourite adalah Goa Jepang ini. Entah sudah berapa kali saya diajak ke tempat ini. Tapi bagi saya tempat ini bagus untuk menjadi renungan perjalanan sejarah bangsa kita ke depan, bahwa perang hanya meninggalkan kerusakan dan tidak membawa kemaslahatan sama sekali, yang tinggal hanya penderitaan.

Mulut goa berdiameter lebih dari 20 meter itu menganga lebar begitu kita menerobos jalan setapak yang masih rimbun dengan pepohonan. Sinar matahari senja yang jatuh di permukaan goa menghasilkan gradasi gelap-terang pada dinding-dinding goa. Terlihat akar-akar pepohonan bergelayut di atas permukaan dengan sisa-sisa embun yang masih membasah. Batuan kapur tegak membentuk sisa-sisa pilar di dinding atas dan di dasar goa. Ketika menuruni puluhan anak tangga menerobos ke dalam goa, lembabnya dinding kapur melambungkan bayangan ketika para serdadu Jepang bertahan di dalam dan mencoba menyiasati kejaran tentara Sekutu.

Inilah wajah goa peninggalan Perang Dunia II yang tersisa di Pulau Biak. Goa ini diyakini sebagai tempat pengendalian logistik pasukan Jepang terletak di wilayah Desa Sumberker, Distrik Samofa, Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua. Lokasi ini hanya berkisar lima kilometer dari pusat kota. Bandara Frans Kaisiepo bisa dilihat tidak berapa jauh dari kawasan ini. Konon sekitar 3.000 tentara Jepang tewas di goa ini karena serangan Sekutu.

Merujuk sejarahnya, goa ini sebelumnya dikenal sebagai Goa Abyab Binsari yang dalam bahasa Biak berarti Goa Nenek. Konon, goa ini memang pernah ditinggali seorang nenek. Peranglah yang kemudian membuatnya menjadi goa persembunyian yang cukup nyaman bagi bala tentara Nippon. Kenyamanan tentara Jepang yang terusik ketika tentara Sekutu dengan operasi intelejen yang disebar ke berbagai penjuru berhasil menemukan mereka. Hantaman bom dan semprotan gas beracun menjadikan goa ini memiliki lubang besar sebagai pembantaian yang meninggalkan peringatan atas kekejaman perang.

Menyusuri jalanan batu berplester selebar dua meteran, kesegaran langsung terasa dari rimbun pepohonan di kanan-kiri. Suara burung sesekali terdengar saat menapakkan langkah semakin jauh meninggalkan pintu masuk. Di lokasi ini juga terlihat tonggak kayu yang dibangun oleh Pemerintah Prefecture Yamagata sebagai penanda warga mereka yang menjadi korban perang di Pulau Biak.





Menuruni anak tangga untuk bisa masuk ke kedalaman goa jepang

Bersama mas Andreas menapaki puluhan anak tangga menuruni goa, suara tetesan air masih sesekali terdengar

Mulut goa berdiameter lebih dari 20 meter itu menganga lebar begitu kita menerobos jalan setapak yang masih rimbun dengan pepohonan. Sinar matahari senja yang jatuh di permukaan goa menghasilkan gradasi gelap-terang pada dinding-dinding goa.

Saat bersembunyi di goa-goa itu, pasukan Jepang diyakini tewas sekitar 3000 oleh serangan sekutu

Sebuah lekukan menyerupai cangkang kerang dengan dua set meja di bawahnya dibangun berseberangan dengan prasasti penunjuk monumen yang dirancang oleh Hiroshi Ogawa ini. Delapan batu karang yang menonjol di depan monumen menjadi pemandangan awal ketika kita membaca tulisan dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Jepang, di monumen ini. Sementara di keluasan monumen terdapat balok marmer yang biasa digunakan sebagai tempat duduk. Semuanya berdiri teratur dalam deretan berjarak sama.

Monumen Perang Dunia II di kawasan Paray terletak di Jalan Raya Bosnik,
Distrik Biak Kota, ini hanya sekitar tujuh kilometer dari pusat Kota Biak.

Tgugu peringatan perang

Sisa-sisa persenjataan yang dikumpulkan di musium tidak jauh dari goa jepang

Pantai indah di tepi jalan raya Bosnik berdekatan dengan tempat monumen dibangun

Minggu, 10 April 2011

Coretan Perjalanan [9] Pegunungan Bintang

Dengan ditemani Agus Salim (sekarang Kepala Bapeda Kab. Keerom) saya berangkat dari Jayapura ke Pegunungan Bintang dengan pesawat pertama yang terbang pada pukul 07.00 WIT. Kami sudah bersiap di Bandara Sentani sejak pukul 06.00. Cuaca cukup cerah jadi dapat dipastikan pesawat tidak delay.

Bagi saya ini pengalaman pertama, penerbangan ke kawasan pegunungan tengah yang orang bilang pedalaman Papua. Kabupaten Pegunungan Bintang termasuk kabupaten baru hasil pemekaran. Letaknya kalau di peta, pas di tengah badan pulau Papua pada garis yang memisahkan Indonesia dengan Papua Nugini.

Bandara pagi itu sesak dengan penumpang dari berbagai penjuru, sehingga ruang tunggunya sepenuh terminal bus menjelang Lebaran. Tapi pemeriksaan di Bandara Sentani tak seketat di Cengkareng. Di sini calon penumpang boleh membawa air minum, termos isi minuman panas dan karung-karung plastik atau kardus-kardus berukuran besar yang hanya diikat dengan tali rafia, seperti yang banyak kita lihat di terminal bus dan stasiun kereta api. Bahkan, para calon penumpang tak hanya membawa termos air dan panci yang agak besar, tetapi juga kasur lipat dan bantal. Mereka juga membawa telur ayam di wadah lebar yang terbuat dari bahan karton, serta beberapa ekor ikan asing kering yang dibiarkan "telanjang", tanpa bungkus.

Anehnya, tak ada penumpang yang keberatan dengan semua itu. Termasuk tidak ada kru dan penumpang yang merasa aneh -kecuali saya, barangkali- melihat banyak yang bersandal jepit, memakai daster, dan berpakaian seperti layaknya tukang cat yang sedang bekerja. Melihat cara saya memperhatikan para calon penumpang dan bawaan mereka itu, Agus salim tersenyum. "Jangan heran ustadz. Di atas (kawasan pegunungan tengah), semua kebutuhan harus diangkut dengan pesawat." jelas Agus.

Pesawat memang satu-satunya alat transportasi untuk menjangkau kawasan pegunungan tengah. Sampai sekarang belum ada jalan darat yang menghubungkan daerah tersebut dengan kota-kota lain di Papua. Penerbangan Oksibil-Jayapura dan sebaliknya dilayani tiga maskapai penerbangan, masing-masing Trigana, Avia Star, dan Merpati. Semuanya menggunakan pesawat kecil, berbaling-baling.

Jumlah penerbangan Oksibil-Jayapura tidak bisa dipastikan. Sangat bergantung pada cuaca. Bisa dua tiga kali, kalau cuaca baik. Tetapi, bisa tidak terbang sama sekali kalau cuaca buruk. Padahal, cuaca di Pegunungan Bintang sangat sulit diprediksi. Perubahannya bisa sangat tiba-tiba. Karena itu, tak ada maskapai penerbangan yang berani melayani rute tersebut pada sore hari.

Selain cuaca, yang juga sangat menentukan penerbangan di rute tersebut adalah jumlah penumpang dan kargonya. Meski penumpangnya tidak banyak, jika kargo yang harus diangkut cukup banyak, pesawat tetap terbang. Ini karena pesawat-pesawat yang ke pegunungan dan daerah-daerah kecil lain di Papua adalah pesawat kargo.

Jadi, "Jangan heran kalau harga Aqua di Pegunungan Bintang bisa Rp 7.000,- pergelas. Dan, harga gorengan seperti tahu goreng Rp 5.000 perbutir ," tambah Agus.

Sampai pesawat hampir mendarat di Bandara Oksibil, saya belum paham benar apa yang dijelaskan Pak Agus yang sudah belasan tahun tinggal di Papua. Saya baru benar-benar ngeh dengan penjelasan itu setelah turun dari pesawat. Kami turun belakangan, karena kami memilih duduk di deretan depan. Naik pesawat di sana -kecuali untuk rute keluar Papua- tanpa nomor duduk. Naik turunnya pun lewat pintu belakang karena pintu depan diperuntukkan barang. Namanya juga pesawat kargo.

Saya bersyukur bisa turun belakangan. Sebab, dengan begitu saya bisa melihat barang apa saja yang dibawa pesawat yang saya tumpangi. Ada panci berukuran besar, beberapa dos lantai keramik, sekarung bawang putih, beberapa sak semen, beberapa lembar seng untuk atap, dua buah kasur spons (bukan spring bed lho!), dan beberapa kursi lipat. Begitu keluar dari perut pesawat, barang-barang itu dijajar sekenanya di kaki pesawat.

Begitu menginjakkan kaki di bandara Oksibil kami dijemput Thonce Nabyal aleg PKS asli Pegunungan Bintang. Karena memang tujuan saya ke Oksibil atas undangan beliau dalam rangka pengukuhan pengurus DPD PKS Kabupaten Pegunungan Bintang. Puluhan sepeda motor berbendera PKS siap menyambut kami di luar bandara. Kami langsung diantar ke Balai Pertemuan milik Pemda tempat acara berlangsung.

Detik ini PKS kembali mengukir sejarah baru bagi roda perjalanan keorganisasiannya di tanah Papua. Dengan dilantiknya pengurus baru DPD Pegunungan Bintang, genap sudahlah struktur PKS di seluruh kabupaten di provinsi Papua yang berjumlah 33 kabupaten.

Acara baru dimulai pukul 10.00 WIT di Balai Pertemuan Pemda setempat. Karena mayoritas yang hadir Kristiani acara dibuka dengan doa oleh pendeta Katholik, lalu menyanyikan ‘Indonesia Raya’. Dilanjutkan dengan sambutan dari ketua panitia. Pak Slamet, selaku ketua panitia menyampaikan tujuan diadakannya pelantikan tersebut, salah satunya adalah untuk memompa motivasi pengurus baru agar memiliki semangat baru pula.

Kemudian saya dipanggil mewakili DPP PKS untuk memberikan sambutan, dalam kata sambutan saya mengajak para pengurus DPD yang baru dan seluruh masyarakat Pegunungan Bintang untuk bahu membahu, bekerja sama dan mempererat tali persaudaraan dalam bingkai NKRI.

Seperti biasanya, acara pelantikan dibarengi dengan penyerahan SK Pengangkatan bagi pengurus baru DPD PKS Pegunungan Bintang. Acara berakhir pukul 12.30 dan ditutup dengan makan bersama. Kali ini ada menu special di Pegunungan Bintang…Bakar Batu.

Mungkin Anda bertanya-tanya tentang kok ‘Bakar Batu?" Mengapa batu harus dibakar? Bakar batu merupakan sebuah kegiatan masak-memasak. Namun disinilah letak keistimewaannya. Barangkali Anda tidak pernah membayangkannya sebelumnya. Media yang dipergunakan untuk memasak adalah BATU. Yah... batu-batu yang dibakar hingga panas memijar.

Masyarakat pegunungan Papua dan beberapa daerah pesisir menggunakan metode bakar batu untuk mengolah makanan mereka. Masyarakat Paniai menyebutnya dengan 'gapii' atau 'mogo gapii', sementara masyarakat Wamena menyebutnya 'kit oba isago'. Sementara masyarakat Biak menyebutnya dengan 'barapen'. Kata 'barapen' sepertinya sudah menjadi kata yang umum di Papua (mungkin karena mudah diingat dan diucapkan).

Umumnya kegiatan bakar batu ini dilakukan untuk menyiapkan hidangan dalam sebuah upacara besar. Upacara-upacara ini bisa dalam bentuk upacara pengucapan syukur, perdamaian (untuk mengakhiri perang antar suku), dan upacara-upacara adat lainnya. Hal yang menarik dari kegiatan bakar batu adalah melibatkan banyak orang. Disinilah akan terlihat betapa tingginya solidaritas masyarakat Papua.

Proses persiapan hingga matangnya makanan pun terbilang cukup lama, sehingga umumnya pada saat menunggu proses matangnya makanan biasanya dipakai oleh kaum muda untuk menari-nari (tergantung upacara yang sedang berlangsung). Proses matangnya masakan—biasanya yang dimasak itu babi tapi kali ini hanya 50 ekor ayam-- membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam.

Sementara menunggu masaknya makan-makan tersebut, biasanya kaum muda bersenda gurau sambil meneriakkan pekik-pekik kebahagiaan. Hal menarik lainnya adalah mereka akan duduk dalam kelompok-kelompok kecil dan sambil mempersiapkan masakannya. Jika sudah matang makanan-makanan itu akan dibagikan kepada semua orang yang ada dilokasi pesta, tanpa terkecuali. Semua mendapatkan porsi yang sama baik tua maupun muda hingga anak-anak.

Dan hasil masakannya? Bagi sebagian orang yang tidak terbiasa mungkin akan merasa agak risih karena makanan itu diolah di dalam lubang dalam tanah. Namun... saya jamin, sekali mencoba.... Anda akan ketagihan. Kok bisa??? Yah... karena itulah pesona Papua.

Membersamai pengurus PKS dan masyarakat Pegunungan bintang

Depan 'metro mini' terbang di bandara Oksibil

Kantor PKS di Pegunungan Bintang...yg penting kompak

konsituen PKS sampai ke pelosok

bersama Andi...di pagi hari...makan indomie

Siap menikmati olahan bakar batu

masyarakat dengan tertib menanti dengan sabar masakan disajikan


Salah satu DPC PKS di Pegunungan Bintang
 
Ranting PKS di pegunungan Bintang papua
 

Selasa, 05 April 2011

Coretan Perjalanan [8] Maybrat

Setelah menuntaskan agenda di Teminabuan pada pukul 08.00 kami bertemu anggota DPRD Kabupaten Sorong Selatan Ahmad Syamsuddin, SE. Dan beberapa saat mendiskusikan hal-hal terkait agenda di Maybrat nanti. Aleg termuda di Sorsel ini akan memandu kami menuju Kabupaten Maybrat. Sebelum berangkat menuju Maybrat kami memenuhi undangan silaturahim Bupati Sorsel Drs. Otto Ihalauw, kami disambut dengan senang hati dan penuh persahabatan. Selanjutnya kami baru mulai perjalanan ke Maybrat pukul 09.00.

Seperti saat kedatangan ke Teminabuan yang harus melintas hutan belantara, perjalanan ini pun tidak jauh berbeda. Walaupun pemandangan yang ditawarkan sangat menarik, tapi sayangnya, saya sempat juga tidak menikmati perjalanan ini. Pada beberapa ruas jalan terpaksa saya harus menahan sakit perut, karena getaran mobil yang cukup kuat. Jalan ke Kabupaten Maybrat ini jalannya bukanlah aspal hot mix yang mulus tanpa hambatan, alias banyak lobang di sana sini dan cuma berupa tebaran batu kapur. Jadi bisa dibayangkan bagaimana debunya. Masyarakat kadang tak punya pilihan, jadi terpaksa menggunakan angkutan darat ini. Padahal ongkosnya cukup mahal.

Kami melewati beberapa kampung, terlihat hampir semua rumah sudah beratap seng dan berdinding beton. Sementara di pinggir perkampungan itu terdapat hutan rindang dengan sungai yang airnya bening, mengalir di pinggir kampung. Anak-anak dan kaum ibu mandi di pancuran air yang mengalir langsung dari mata air di bawah kaki gunung dan bukit. Burung-burung hutan bernyanyi bersahut-sahutan di sekitar kampung.

Di tengah hempasan dan guncangan roda-roda Strada yang kami tumpangi, terkadang terlintas dalam benak saya,”Saya tidak pernah bermimpi sebelumnya untuk mengenal daerah yang bernama Maybrat ini bila bukan karena tugas dakwah yang menghendakinya.”

Maybrat adalah kabupaten baru ini hasil pemekaran dari kabupaten Sorong. Disahkan melalui UU-RI Tahun 2009 Nomor 13 tentang Pembentukan Kabupaten Maybrat sebagai hasil pemekaran dari kabupaten Sorong. Terdiri dari 11 distrik antara lain distrik Aifat, distrik Aifat Utara, distrik Aifat Timur, distrik Aifat Selatan, distrik Aitinyo Barat, distrik Aitinyo, distrik Aitinyo Utara, distrik Ayamaru, distrik Ayamaru Utara, distrik Ayamaru Timur, distrik Mare.

Perjalanan kami sebenarnya tidak memakan waktu lama, hanya 1,5 jam saja. Tapi kondisi jalan yang banyak rusak, menyempit dan berkelok kelok, walau ada sebagian jalan sudah baik dan sebagian masih dalam pembenahan, namun jauh lebih baik kondisinya dibanding perjalanan Sorong-Teminabuan. Dan mendekati distrik Aitinyo mobil kami berhenti, karena ada sajian alam yang luar biasa. Hamparan air yang luas terbentang di depan mata. Saya langsung berdecak kagum…subhanallah!!

Sebuah view yang eksotis, inilah danau Ayamaru yang sangat indah. Keindahan khas alam Papua yang asli dan alami. Ya memang…Papua memiliki lebih dari 200 danau (kecil dan besar), seperti Danau Paniai, Tigi, Sentani, Yamur, dan Rombebai. Sebagian besar belum diberi nama. Danau-danau tersebut memiliki fungsi strategis bagi masyarakat tradisional. Tampaknya tidak banyak orang yang tahu tentang danau Ayamaru ini –termasuk saya--yang terletak di kabupaten Maybrat Propinsi Papua Barat. Kalau di peta terletak pas di kepala Burung.

Belum selesai dengan ketakjuban akan pemandangan yang ada di depan saya, ada lagi sebuah danau kecil di pinggiran danau yang besar. Tampak gradien warna danau dari warna kuning hijau biru yang menakjubkan.. ditambah lagi airnya yang jernih sehingga kita bisa melihat ikan-ikan yang berenang kesana kemari. Di tengah danau tampak anak-anak Papua sedang mencari ikan dengan cara ditombak. Wow… butuh keahlian yang luar biasa untuk bisa melakukan hal tersebut.

Danau Ayamaru sudah dikenal sejak zaman Belanda. Ada tiga danau yang merupakan satu kesatuan, yaitu Yahu (bagian atas), Yate (bawah), dan Ikri (penampung air dari sungai). Danau tersebut dimanfaatkan untuk arena rekreasi. Ada upaya Belanda membangun sistem pengairan dengan menggunakan air danau itu, tetapi konstelasi politik (1962) saat proses integrasi Papua ke RI, rencana tersebut dihentikan.

Selanjutnya kami langsung menuju ibukota kabupaten Maybrat yaitu Kumurkek sebuah kota yang baru tumbuh atau lebih tepatnya kampung yang sedang membangun. Maka sampailah kami di kampung Kambufatem distrik Aitinyo Barat lokasi undangan dimana kami harus hadir.

Suara dari loudspeaker terdengar keras berisi seruan kepada warga untuk segera datang mempersiapkan segala sesuatu untuk persiapan deklarasi dan pelantikan Dewan Pengurus Daerah (DPD PKS) Maybrat. Saya pun langsung terenyuh melihat atensi yang begitu luar biasa. Ternyata sudah banyak masyarakat yang berkumpul dan suasananya begitu semangat. Tampak hadir tokoh-tokoh Maybrat Pak Yosef Kambu, Fredrick Kambu dan Luther Kambu.

Ketika tahu rombongan kami sudah datang. Mereka langsung bergegas merapikan hadirin dan memberikan arahan tentang apa saja yang harus dipersiapkan dan dikerjakan. Sementara gedung serba guna tempat akan berlangsungnya acara telah penuh dengan hadirin yang ingin menyaksikan deklarasi PKS Maybrat.

Tampak terpasang spanduk, tenda dari terpal untuk para tamu-tamu yang datang. Masyarakat Kampung Aitinyo yang menjadi tuan rumah Deklarasi PKS ini sangat antusias dan semangat untuk mempersiapkan segalanya agar acara bisa berjalan dengan baik. PKS memang sudah ada sejak pemilu 2004 tapi baru setingkat distrik. Jadi deklarasi ini untuk pengukuhan struktur PKS di tingkat kabupaten sejalan dengan Maybrat yang telah dimekarkan menjadi kabupaten.

Acara pun dimulai Selasa, (3/2/2011) pagi pukul 11.00 WIT di Aitinyo Barat.Ketua PKS Kabupaten Maybrat Papua Barat, Yosef Kambu, dalam sambutan pembukaannya mengatakan, deklarasi ini merupakan aspirasi masyarakat. Deklarasi ini, tambahnya, lebih pada upaya untuk merespon pernyataan PKS sebagai partai terbuka. Dan kabupaten Maybrat sebagai daerah mayoritas kristiani siap mengembangkan struktur dan memenangkan PKS pada setiap pemilu. Untuk itu, segala mekanisme dan prosedur yang berlaku di PKS akan dipenuhi.

Ada yang membuat saya terharu saat deklarasi berlangsung, bersama-sama menyanyikan ‘Indonesia Raya’ dan Mars Keadilan serta ‘ Tanah Papua’ benar-benar kejadian langka yang membuat dada bergemuruh. Ditambah saat ramah tamah dengan para pemangku adat masyarakat Maybrat, sebagai bentuk rasa kedekatan antara PKS dan masyarakat, saya mewakili DPP PKS Jakarta disematkan gelar kehormatan ‘AMO STUBAT NYO NMO RAMANES’. Prosesi berlangsung dengan pemberian tas noken ( tas khas papua) dan topi pandang.

Malamnya disaat saya mencoba untuk memejamkan mata, saya berharap apa yang disampaikan Pak Ketua tadi pagi bisa terwujud. "Semoga partai keadilan sejahtera ini benar-benar dapat menciptakan keadilan dan kehidupan yang sejahtera bagi masyarakat masyarakat Maybrat khususnya dan rakyat Indonesia pada umumnya.”

Ya..semoga !!!


Danau Ayamaru dari kejauhan, seperti lautan

Deklarasi PKS di kabupaten Maybrat disaksikan pejabat setempat
 
Penyerahan bendera PKS dari ketua DPW PKS Papua Barat kepada ketua DPD PKS Maybrat...simbol diterimanya PKS di tanah Papua
 
 
Bersama tokoh-tokoh Maybrat
 
Keindahan danau Ayamaru dari dekat
 
Airnya jernih sekali
 
Anak-anak menikmati segarnya danau
 
Senyum anak-anak Aifat
 
 

Coretan Perjalanan [7] Teminabuan

Penerbangan Ambon-Sorong yang berdurasi lebih kurang 60 menit itu akhirnya berakhir dengan mulus. Saat ban- ban Wings yang kami tumpangi berdecit nyaring meluncur di bandara DEO (Domine E. Osok) Sorong. Lima menit kemudian saya sudah menginjakkan kaki dengan selamat di kota Sorong.

Sorong bukan tujuan utama saya kali ini. Saya hanya transit sekedar istirahat mengumpulkan tenaga. Karena sore nanti perjalanan akan dilanjutkan menuju kota kecil Teminabuan. Ibu kota kabupaten Sorong Selatan yang berjarak sekitar 170 km dari kota tempat saya singgah.

Saya dijamu makan siang oleh Pak Agus, dia teman saya yang sudah belasan tahun menetap di Sorong. Dia menyiapkan mobil untuk menjemput dan mengantar saya. Pria asal Nusa Tenggara Barat ini akan menemani saya meneruskan perjalanan ke Teminabuan, sekitar 170 km dari Sorong, kami mengendarai mobil sewaan, Mitsubishi Strada Triton. Sopirnya bernama Cepi, ia polos, santun dan cepat akrab, asli Makassar yang bekerja sebagai sopir sewaan di Sorong.

Dengan Starada Triton kami berangkat pukul 16.00 WIT. Perjalanan ke Teminabuan ini mungkin perjalanan darat terberat yang pernah saya alami. Masalahnya kondisi jalan yang lebih cocok disebut medan off road, bahkan masih lebih bagus medan jalan yang dipakai oleh pembalap rally kita yang biasanya di kebun sawit. Tapi itu hal yg biasa bagi mereka yang tinggal di Papua.

Dan kendaraan umum yang dapat melintasi jalan ini hanya mobil-mobil yang mempunyai double gardan seperti Mitsubishi Strada, Ford Ranger dan Toyota HILUX. Di Jakarta ataupun di kota-kota kendaraan ini terbilang kendaraan-kendaraan mewah yang sangat disayang si empunya. Sebenarnya ada alternatif lain, ada jalur udara dan laut, rutenya hanya Sorong-Teminabuan. Seperti pesawat Twin Otter dengan kapasitas penumpang 15 orang, di mana berat barang bawaan maksimal 15 kg/orang. Jadwalnya tiga kali seminggu.

Hampir semua kendaraan dari dan ke Teminabuan harus siap-siap berhadapan dengan cuaca buruk dan tidur malam di tengah hutan sepanjang jalan. Perlu diketahui bahwa sepanjang perjalanan tidak ada penginapan maupun tempat istirahat seperti rumah makan atau warung. Alhasil, sebelum berangkat semua sudah harus dalam kondisi siap tempur, ya mobilnya, ya sopirnya, ya penumpangnya, juga perbekalannya.

Dari Sorong, menikmati jalan aspal licin hanya sampai di km 30. Selanjutnya kami hanya bertemu aspal berlubang, tanah berkubang ataupun jalan berbatu. Jadi sepanjang 170 km atau 7 jam kami seperti sedang melakukan rally alam. Menerobos hutan-hutan yang masih perawan sungguh menyeramkan bagi mereka yang baru pertama kali melaluinya, pohon-pohon menjulang tinggi. Kadang terpikir andaikata mobilnya mogok, tidak ada bantuan dan terpaksa harus menginap di tengah hutan? Tapi hutan-hutan di Papua tidak ada harimau, ular, gajah ataupun binatang buas. Suara burung terdengar sepanjang jalan.

Sepanjang perjalanan saya banyak melihat kendaraan-kendaraan mewah ini (Mitsubishi Strada, Ford Ranger dan Toyota Land Cruiser 2000) lalu lalang dengan warna-warna mobilnya sudah tertutup lumpur. Saya harus menikmati perjalanan ini. Menikmati roda-roda mobil yang menerobos dalamnya lumpur di tengah hutan lebat. Dengan gagahnya mobil Strada ini melewati lumpur-lumpur di sepanjang jalan seperti tiada halangan yang berarti. Walaupun berjalan pelan, tapi pasti. Ingin rasanya saya menyupiri mobil di medan seperti ini.

Walaupun sungguh melelahkan tapi saya bisa jamin siapapun yang pernah jalan darat ke Teminabuan, pasti mengagumi pemandangannya di sepanjang jalan. Bagaimana tidak, alam Papua yang asri dengan deretan pepohonan yang menghijau, sungguh menyegarkan mata. Belum lagi di sisi kiri kanan jalan ditumbuhi berbagai bunga liar ternasuk anggrek – anggrek tanah berwarna ungu muda yang bermunculan keluar dari sela- sela pakis yang beraneka jenis.

Di tengah perjalanan kami sempat berhenti di daerah bernama Kladuh dikenal dengan Kali Taputar. Di sini ada sebuah pusaran air yang tidak kelihatan jelas ke arah mana aliran airnya mengalir. Jadi ada kali besar yang dibatasi dengan dinding-dinding batu, terus air sungai itu berputar-putar di tengah- tengah dan tidak ada yang tahu akan muncul di mana? Sungai yang begitu besar dan deras arusnya bermuara di bawah tebing tersebut. Jadi, sungai permukaan beralih menjadi sungai bawah tanah yang masuk melalui sebuah lubang besar dibawah tebing yang mengakibatkan terbentukan pusaran air yg sangat kuat. Jangan membayangkan apa akibatnya kalau kita kecemplung di sungai tersebut! Semua kendaraan selalu berhati-hati bila melewati daerah ini karena kalau musim hujan air bisa meluap ke pinggir jalan dan bisa menarik mobil yang lewat untuk di sedot ke pusaran air.

Pukul satu tengah malam pada hari Senin tanggal 3 Januari 2011 kami tiba di Teminabuan, Kabupaten Sorong Selatan. Kami masuk ke sebuah hotel sederhana namun dilengkapi AC, saya cukup kaget mendengar harga sewa 1 kamar antara 300 hingga 400 ribu rupiah, kamar standar hotel berbintang tiga di Jakarta seharga itu. Namun jauh lebih mewah dari ini, kamar seperti ini di Jakarta mestilah berkisar 100 ribu atau kurang, tapi faktor jarak dan susah serta mahalnya barang barang karena jauh dari ibukota, membuat semua harga menjadi mahal di sini. Sebagaimana ongkos sewa mobil 4X4 itu sebesar 1,5 juta rupiah.

Teminabuan sebenarnya kota dengan nilai historis tersendiri bagi bangsa Indonesia, apalagi bagi pelaku-pelaku sejarah ‘Pembebasan Irian Barat’ mendengar “Teminabuan”, mereka pasti akan meneteskan air mata karena berbagai perasaan berbaur menjadi satu. Perasaan bangga, haru dan syukur menjadi satu ketika mereka mengenang kembali peristiwa-peritiwa yang dialami di daerah tersebut. Peristiwa heroik ini patut diteladani oleh generasi-generasi penerus.

Kisah nyata ini terjadi dalam rangkaian peristiwa ketika bangsa Indonesia merebut kembali wilayah Irian Barat (sekarang Papua) dari Belanda, peristiwa ini dikenal dengan nama Tri Komando Rakyat (Trikora). Trikora terjadi karena adanya gelagat Belanda yang tidak mau melepaskan Irian Barat. Sehingga dalam suatu rapat raksasa tanggal 19 Desember 1961 di alun-alun Yogyakarta, Presiden Soekarno mengumumkan “Tri Komando Rakyat” kepada seluruh rakyat Indonesia.

Adapun tiga maklumat yang disampaikan oleh Presiden Soekarno ketika itu adalah: Gagalkan pembentukan “Negara Boneka Papua” buatan Kolonial; Kibarkan sang merah putih di Irian barat tanah air Indonesia; Bersiaplah untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air Indonesia.

Teminabuan… kami datang!!!!!!. Sebuah kabupaten baru dengan perkembangan yang sangat pesat, pembangunan di sana-sini meski pembangunan masih merupakan bangunan-bangunan kantor dinas dan beberapa fasum, diharapkan dengan pembangunan kantor-kantor dinas yang tersebar, akan membuat masyarakat berminat untuk menanamkan investasi di daerah ini. Dan memang itulah yang terjadi.


start menuju sorsel
 
 
Strada Triton menerjang lumpur
 
 
Benar...benar offroad
 
Jeblos su biasa...
 
 
Penampakan Triton setelah tiba di Teminabuan
 
 
Mejeng dekat Triton tumpangan
 
 
Latar belakang Kali TAPUTAR...gak berani lihat ke belakang..ngeri gan!
 
 
Dapat jalan bagus
 
 
Membersamai tokoh2 masyarakat maybrat di Temi
 
 
Mesjid Raya di teminabuan
 
 
Pelabuhan di Temi
 
 
Bersama tokoh Kokoda...haji Abbas Kokaragu
 
 
Bersama Bapak Wakil Bupati Sorong Selatan terpilih 2010-2015 Syamsudin Angginuli, SE