Selasa, 05 April 2011

Coretan Perjalanan [6] Kabupaten Keerom

Perjalanan selanjutnya adalah kabupaten Keerom. Karena skedul di Jayapura sudah beres maka kami merencanakan ke daerah ini. Kabupaten Keerom, salah satu dari lima kabupaten di Papua yang berbatasan langsung dengan Papua New Guinea. Perjalanan dari kota Jayapura ke Keerom dapat ditempuh melalui darat yang berjarak 80 km dalam waktu 1,5 jam. Perjalanan akan menembus hutan yang lebat, semak belukar dan berbukit. Kabupaten ini sangat luas, tapi penduduknya masih sedikit hanya sekitar 50.000 jiwa.

Seperti biasa dengan ditemani Pak Maddu Mallu rekan saya di Jayapura, perjalanan melewati Pelabuhan Jayapura, Jl. Argapura, Komplek Hamadi. Terlihat Bukit Jayapura City yang menjulang tinggi, di atas bukit tampak antene tinggi dan tulisan besar ‘JAYAPURA CITY’. Kemudian memasuki daerah Entrop dengan jalan yang berkelok-kelok dan mendaki Bukit Skyline. Di sekitar tepi jalan yang menanjak terdapat banyak penjual es kelapa dengan warung-warung semi permanen. Menurut pengalaman teman-teman yang sudah lama tinggal di Papua, minum es kelapa menjadi dilematis karena stamina tubuh bisa drop dan kalau sudah drop begini dikhawatirkan mudah terjangkit malaria. Makanya walaupun banyak sekali penjualnya, akan tetapi tak banyak pembelinya.

Kami mendapati bukit seperti batok terbalik, di atas bukit ini katanya ada gua dan sebuah Vihara Budha. Di sekitarnya terdapat tebing- tebing yang tegak 90 derajat dan pastinya ini akan menantang andrenalin para pemanjat tebing. Lalu kami memasuki Abepura, di sini ada kampus Universitas Cenderawasih, ada Gedung MRP (Majelis Rakyat Papua). Ada tempat Kesatrian Karel S Tubun dan banyak anggota TNI. Dan kami sempat melewati RSUD dan gedung Badan Perpustakaan Nasional.

Kami masuk ke daerah lingkaran Abepura, ada pantai Hamadi, tempat tentara sekutu mendarat pertama di Jayapura sewaktu Perang Dunia II. Pantainya lumayan indah dengan pasir putih. Ombak kecil berarak. Nampak anak-anak kecil telanjang bermain air di pinggir laut dengan ceria. Rambut keriting, kulit gelap dan senyuman indah saat kami dekati dan mengabadikan momen indah itu dengan kamera pocket saya. Duh…mereka senang sekali! Sungguh anak-anak Indonesia yang manis. Di sudut lain tampak tiga rongsokan tank sisa perang Dunia II masih teronggok di pinggir pantai dalam kondisi yang penuh korosi.

Tak lama kami di Pantai Hamadi, langsung meluncur ke arah perbatasan. Jaraknya sekitar 80 km ke arah timur. Kami menyusuri hutan. Ada satu dua pemukiman di antara hutan yang luas. Menembus Tanah Hitam (nama suatu daerah) atau kampung Yotefa, tempat sebagian besar orang-orang yang berasal dari Sulawesi. Ada kampong Enrekang, terlihat rumah khasnya berupa rumah panggung dari kayu. Seperti rumah adat Manado. Beberapa orang nampak menjemur buah coklat. Di antara rumah banyak tanaman jagung, merica, coklat. Memang sebagian penduduk yang berasal dari Enrekang, mata pencahariannya adalah bercocok tanam, antara lain: pinang, sirih, coklat, pisang dan jagung. Penduduk Papua banyak yang makan sirih, namun bukan daunnya seperti di pulau Jawa, yang dimakan adalah buah sirihnya. Banyak sekali ditemui penjual buah sirih dan pinang di pinggir jalan. Kampung Enrekang disebut Koya Koso.

Sepanjang hutan banyak ditemui pohon matoa, pinang, tanaman merica seperti tanaman sirih, merambat pada pokok pohon besar. Juga rumput gajah asli tumbuh sendiri dengan lebat. Kami melewati hutan beberapa kilo meter. Hutannya masih lumayan lebat. Jalan yang menghubungkan lumayan mulus dengan aspal hotmix.

Kemudian perjalanan melalui kampung Nafri, di sini kita harus ekstra hati-hati dalam berkendaraan masalahnya kalau sampai menabrak babi atau anjing urusannya bisa panjang, karena ganti ruginya sangat mahal (kata pak sopir dihitung tujuh turunan). Kampung Nafri yang terletak di Km 9, dulunya dikenal sebagai daerah merah, karena penduduknya banyak yang pro OPM. Disini ternak dilepas begitu saja melintas dan berkeliaran di jalan raya.

Kami melewati daerah Arso III, mulai mendekati Koya Barat daerah transmigran dari pulau Jawa, dan sekarang dikenal sebagai penghasil beras. Lahan pertanian di kiri kanan jalan terlihat subur, dan pengolahan lahan telah maju dengan menggunakan traktor bermesin. Lahan pertanian antara lain ditanami padi dan palawija. Makin banyak terlihat pemandangan seperti di daerah Jawa. Rumah-rumah satu dua sudah ada yang bertembok tapi lebih banyak masih menempati rumah jatah transmigran berupa rumah kayu yang kebanyakan sudah lusuh.

Di areal trans juga ada tempat rekreasi yaitu pemancingan ikan. Beberapa penduduk trans di Koya membuat kolam dan mengisinya dengan ikan mujair, ikan emas dan nila. Ada 5 tempat pemancingan yang dipagari kayu sederhana. Tempat ini terdiri dari 6-7 kolam besar ikan mujair dan ikan emas. Tempatnya luas sekali. Kalau hari libur katanya daerah ini banyak sekali pengunjungnya.

Melewati pasar Sehito di Muara Tami, ramai pada saat hari Sabtu karena semua penduduk beramai-ramai turun gunung. Disini terlihat ada SMK IV di pinggir jalan, sepertinya dulu tampak megah tapi sekarang kondisi sangat mengenaskan dan tidak dipergunakan lagi.

Perjalanan dilanjutkan melalui kampung Skouw Mabo, selanjutnya perjalanan melalui hutan lebat berkelak kelok menanjak. Setelah melewat jembatan sungai Tami yang terlihat tenang (namun katanya sering banjir), maka terdapat pos pertama di Muara Tami. Mobil harus dibuka kacanya, namun tak perlu berhenti. Mobil hanya berjalan perlahan, dan kami memasuki daerah perbatasan. Kami lapor dulu ke Pos jaga tentara. Ada plakat Selamat Datang di Muara Tami, Pos Koki A Yonif 408/SBH Satgas Pamtas RI-PNG. Saat itu yang jaga Yonif 408 Kodam IV Diponegoro.

Di depan pos penjaga perbatasan terdapat 3 (tiga) helipad, dan di sebelahnya terdapat pasar perbatasan (istilah disana “kios”) untuk wilayah RI yang ramai dengan orang PNG sedang membeli berbagai keperluan. Kios ini akan ramai terutama hari Jumat, Sabtu, Minggu dan hari Rabu. Kenapa hari Rabu, karena pada hari tersebut kapal merapat di desa Putung dari Vanimo, kota Vanimo merupakan kota terdekat di PNG.

Sekitar 2 km dari pos jaga kami lapor lagi ke pos polisi, ada pos Pemeriksaan Lintas Batas PPLB Skouw dan kantor imigrasi. Mobil ditinggal di pos polisi. Dulu mobil boleh terus sampai gerbang perbatasan. Sekarang harus diparkir di dekat kantor imigrasi dan kami berjalan kaki menuju pagar batas. Nampak banyak orang PNG dengan wajahnya yang khas Papua berjalan kaki membawa barang belanjaan.

Ada dua gate besar di jalan 2 jalur ke perbatasan. Gate pertama keluar dari wilayah Indonesia. Bertuliskan Selamat Jalan Good Bye dan di baliknya bertuliskan Welcome to Indonesia. Gate satunya masuk ke negara PNG dengan tulisan Welcome to Papua New Guinea. Diantara dua gate sepanjang sekitar 300 m tersebut merupakan daerah bebas. Dari jauh terlihat pantai PNG yang indah dengan pasir putihnya. Kalau mau ke PNG tidak menginap bisa minta ijin ke Imigrasi dan diberi kartu merah. Gratis.

Karena tak membawa paspor, kami hanya melihat kampung Putung yang terletak dipinggir laut dari atas bukit. Orang PNG tak beda dengan orang Papua, hanya lebih tinggi dan lebih berani bertatap muka. Mata uangnya disebut Kina, dan 1 Kina = Rp.3000,-. Orang PNG lebih banyak yang melintasi perbatasan menuju wilayah Indonesia dibanding orang Indonesia yang ke wilayah PNG. Orang Indonesia yang melintas ke PNG adalah orang-orang seperti kami, karena ingin melihat seperti apa perbatasan tersebut.

Di kabupaten Keerom Propinsi Papua terdapat 6 distrik yang berbatasan langsung dengan PNG salah satunya distrik Waris. Distrik Waris terdiri dari 6 desa dengan jumlah penduduk 2117 jiwa. Distrik Waris dihuni oleh dua suku yaitu Suku Walsa dan Suku Fermanggam. Suku Walsa tersebar di 5 desa di Papua Indonesia dan 26 desa di PNG sedangkan suku Farmanggam hanya satu desa di Papua dan Empat belas Desa di PNG. Jadi hubungan kekelurgaannya tetap berjalan baik sebab mereka satu tanah adat, satu bahasa dan satu budaya.sampai saat ini.

Maka pada umumnya mereka yang di PNG membeli bahan kebutuhan pokok, seperti beras, gula, juga barang elektronik dan bahan sandang. Jujur saja, ternyata bahan kaos di PNG lebih tipis dibanding di pasar wilayah Indonesia, serta harganya lebih mahal. Mereka membawa barang-barang yang dibeli dengan menggunakan kereta dorong, mirip dengan kereta dorong untuk mengangkut bahan bangunan, terbuat dari besi dan umumnya di cat warna hijau. Dari obrolan dengan penjual di kios wilayah Indonesia, mereka rata-rata juga berdagang di pasar Hamadi Jayapura, dan berasal dari Makassar. Mereka menginap di kios Indonesia hanya saat hari ramai, dan pulang kembali untuk berdagang di Hamadi.

Awalnya saya membayangkan wilayah perbatasan itu berhutan lebat, dengan tentara penjaga lengkap dengan senjata laras panjang. Wah…ternyata tidak seperti itu, ini merupakan daerah terbuka, beraspal mulus, dengan orang-orangnya yang ramah. Ahh…betapa indahnya perdamaian.


Jayapura dilihat dari bukit Jayapura City

Tiang-tiang pancang yg menahan huruf-huruf besar bertuliskan J-A-Y-A-P-U-R-A- C-I-T-Y

Monumen peringatan Perang Dunia II

Menembus hutan lebat dengan jalan yang mulus

Papan pengumuman di perbatasan PNG

Pasar kaget yang banyak pembelinya dari PNG

daerah terbuka di perbatasan
 
 

Silaturahim ke rumah Pak Joko yg sdh 15 tahun tinggal di Arso II
 
 
Jalan menuju tempat peresmian pengurus DPC Arso
 
 
Menjelang maghrib masih di tengah hutan
 
 
Mama-mama bermain di pantai
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar