Mendekati siang, Batavia Air yang saya tumpangi tiba di Bandara Pattimura sekitar jam 07.00 WIT. Perjalanan panjang yang memakan waktu kurang lebih 3 jam di dalam pesawat yang dingin membuat keletihan yang luar biasa. Ambon saat ini, cuaca sedang cerah, suhu 27 C. Ketika pesawat akan mendarat saya mencoba melongok ke luar jendela dan samar terlihat beberapa pulau. Pulau Haruku, Pulau Seram, Pulau Saparua, dan Pulau Ambon, sungguh lukisan alam yang menawan dilihat dari atas pesawat.
Pesawat mulai terbang merendah, melalui teluk yang cantik, terhampar pasir putih di pantai yang indah, itulah detik-detik mendekati landing. Selang beberapa lama pesawat mendarat dengan sempurna, bau angin laut tercium menyegarkan, mengganti kepengapan setelah beberapa lama sempat membaui AC di pesawat. Saya mencoba menarik napas dalam-dalam. Dan alhamdulillah saya hadir lagi di Ambon.
Muzakkir As-Segaf dan teman-teman kami yang menjemput tampak menebarkan senyum penuh keakraban. Sambil menunggu bagasi, kami berbincang mengenang saat-saat kami dulu di Ambon. Seorang sopir mendampingi kami menuju kota yang jaraknya 50 km, ditempuh dengan waktu 1,5 jam dengan perjalanan santai. Jarak tempuh yang lama ini sebenarnya hanya mengitari teluk seperti huruf U, tapi akan tak terasa karena kita akan menikmati pemandangan laut yang indah dan mempesona sepanjang perjalanan. Mobil yang kami tumpangi menyusuri jalan membelah keheningan pagi melewati beberapa desa.
Sebenarnya perjalanan kami bisa dipersingkat dengan menggunakan jasa kapal feri dari daerah Poka, mobil bisa menyeberang ke Galala. Lumayan bisa hemat waktu satu jam. Namun karena masih pagi kami lebih memilih terus mengendarai mobil menyusuri jalan raya sampai ke Kota Ambon dengan melewati daerah Negeri Lama, Passo, dan Halong. Ketika menyusuri jalan-jalan Kota Ambon, saya menikmati betul pemandangan yang terhampar di sepanjang Teluk Ambon. Lautan yang jernih, langit yang biru, udara yang bersih, angin yang bertiup agak kencang, perahu kecil yang hilir mudik dengan layar warna-warni di perairannya, dan tipografi kota yang berbukit-bukit; Subhanallah, alangkah indahnya!
Kamipun mencicipi ikan mubara bakar yang fresh dari laut yang dagingnya luar biasa lezat, dengan bumbu yang enak bercita rasa Makassar yang maknyuss di lidah. Setelah makan siang, kami meneruskan perjalanan menyusuri dalam kota, melalui puing-puing rumah pasca kerusuhan, yang tampaknya masih belum dibangun, walau ada satu-dua yang sudah dibangun. Kerusuhan membuat kota ini tercabik-cabik menjadikan penduduknya bermigrasi ke mana-mana. Tapi saat ini, Ambon cukup aman, Masyarakat berbaur seperti sediakala. Rupanya masyarakat Ambon suka keluyuran malam dan kelaparan, sehingga kelihatan kalau pedagang kali lima selalu ramai sampai pagi. Bahkan kendaraan roda dua atau empat di parkir begitu saja, tampaknya aman-aman saja.
Saya menginap di Amans (Ambon Manise), hotel sekaligus tempat diselenggarakannya acara yang akan saya hadiri esok hari. Setelah rehat sejenak, mumpung masih ada waktu luang dengan menumpang becak, saya pergi ke Pasar Matahari di dekat Lapangan Mardika. Keramaian pasar itu menunjukkan aktivitas ekonomi di Ambon telah pulih. Jejeran pedagang kaki lima memenuhi sepanjang jalan menjajakan kebutuhan masyarakat. Becak yang saya tumpangi bergerak ke jalan Sultan Babulah dan tidak lupa saya menyempatkan shalat Ashar di Masjid Al-Fatah, masjid terbesar dan menjadi kebanggaan warga muslim kota Ambon.
Sampai di Amans rupanya ada kejutan, teman-teman mengajak saya untuk pergi ke pemandian air panas di Tulehu, letaknya di pantai timur pulau Ambon sekitar setengah jam perjalanan dari pusat kota. Untuk sampai ke lokasi tidak begitu sulit karena jarak dari jalan raya utama hanya satu kilometer. Air panas ini berada di daerah aliran sungai kecil yang dibangun tembok pemisah antara air hangat dan panas. Sebelah kiri dialiri sungai yang tercampuri air dari sumber air panas sehingga memberi rasa hangat, sementara sebelah kanannya terasa lebih panas dari sebelahnya.
Air panas alam ini kerap didatangi pengunjung baik wisatawan lokal maupun mancanegara yang ingin merasakan nikmatnya berendam di air panas alam, sekaligus menikmati sejuknya hawa pepohonan di tengah hutan dan udara perbukitan. Tempat ini dikelola secara swadaya oleh warga dan tempatnya masih sangat sederhana namun tidak menghilangkan kesan alami di tengah-tengah hutan serta perkebunan cengkih dan sagu. Asri dan penuh kesejukan.
Tiba kembali di Amans menjelang ‘Isya, cukup seharian menikmati keelokan kota Ambon walau sebenarnya masih menyisakan penasaran karena masih begitu banyak tempat-tempat indah yang belum terjamah. ‘Ala kulli haal setumpuk tugas sudah harus digeluti esok hari.
Pesawat mulai terbang merendah, melalui teluk yang cantik, terhampar pasir putih di pantai yang indah, itulah detik-detik mendekati landing. Selang beberapa lama pesawat mendarat dengan sempurna, bau angin laut tercium menyegarkan, mengganti kepengapan setelah beberapa lama sempat membaui AC di pesawat. Saya mencoba menarik napas dalam-dalam. Dan alhamdulillah saya hadir lagi di Ambon.
Muzakkir As-Segaf dan teman-teman kami yang menjemput tampak menebarkan senyum penuh keakraban. Sambil menunggu bagasi, kami berbincang mengenang saat-saat kami dulu di Ambon. Seorang sopir mendampingi kami menuju kota yang jaraknya 50 km, ditempuh dengan waktu 1,5 jam dengan perjalanan santai. Jarak tempuh yang lama ini sebenarnya hanya mengitari teluk seperti huruf U, tapi akan tak terasa karena kita akan menikmati pemandangan laut yang indah dan mempesona sepanjang perjalanan. Mobil yang kami tumpangi menyusuri jalan membelah keheningan pagi melewati beberapa desa.
Sebenarnya perjalanan kami bisa dipersingkat dengan menggunakan jasa kapal feri dari daerah Poka, mobil bisa menyeberang ke Galala. Lumayan bisa hemat waktu satu jam. Namun karena masih pagi kami lebih memilih terus mengendarai mobil menyusuri jalan raya sampai ke Kota Ambon dengan melewati daerah Negeri Lama, Passo, dan Halong. Ketika menyusuri jalan-jalan Kota Ambon, saya menikmati betul pemandangan yang terhampar di sepanjang Teluk Ambon. Lautan yang jernih, langit yang biru, udara yang bersih, angin yang bertiup agak kencang, perahu kecil yang hilir mudik dengan layar warna-warni di perairannya, dan tipografi kota yang berbukit-bukit; Subhanallah, alangkah indahnya!
Kamipun mencicipi ikan mubara bakar yang fresh dari laut yang dagingnya luar biasa lezat, dengan bumbu yang enak bercita rasa Makassar yang maknyuss di lidah. Setelah makan siang, kami meneruskan perjalanan menyusuri dalam kota, melalui puing-puing rumah pasca kerusuhan, yang tampaknya masih belum dibangun, walau ada satu-dua yang sudah dibangun. Kerusuhan membuat kota ini tercabik-cabik menjadikan penduduknya bermigrasi ke mana-mana. Tapi saat ini, Ambon cukup aman, Masyarakat berbaur seperti sediakala. Rupanya masyarakat Ambon suka keluyuran malam dan kelaparan, sehingga kelihatan kalau pedagang kali lima selalu ramai sampai pagi. Bahkan kendaraan roda dua atau empat di parkir begitu saja, tampaknya aman-aman saja.
Saya menginap di Amans (Ambon Manise), hotel sekaligus tempat diselenggarakannya acara yang akan saya hadiri esok hari. Setelah rehat sejenak, mumpung masih ada waktu luang dengan menumpang becak, saya pergi ke Pasar Matahari di dekat Lapangan Mardika. Keramaian pasar itu menunjukkan aktivitas ekonomi di Ambon telah pulih. Jejeran pedagang kaki lima memenuhi sepanjang jalan menjajakan kebutuhan masyarakat. Becak yang saya tumpangi bergerak ke jalan Sultan Babulah dan tidak lupa saya menyempatkan shalat Ashar di Masjid Al-Fatah, masjid terbesar dan menjadi kebanggaan warga muslim kota Ambon.
Sampai di Amans rupanya ada kejutan, teman-teman mengajak saya untuk pergi ke pemandian air panas di Tulehu, letaknya di pantai timur pulau Ambon sekitar setengah jam perjalanan dari pusat kota. Untuk sampai ke lokasi tidak begitu sulit karena jarak dari jalan raya utama hanya satu kilometer. Air panas ini berada di daerah aliran sungai kecil yang dibangun tembok pemisah antara air hangat dan panas. Sebelah kiri dialiri sungai yang tercampuri air dari sumber air panas sehingga memberi rasa hangat, sementara sebelah kanannya terasa lebih panas dari sebelahnya.
Air panas alam ini kerap didatangi pengunjung baik wisatawan lokal maupun mancanegara yang ingin merasakan nikmatnya berendam di air panas alam, sekaligus menikmati sejuknya hawa pepohonan di tengah hutan dan udara perbukitan. Tempat ini dikelola secara swadaya oleh warga dan tempatnya masih sangat sederhana namun tidak menghilangkan kesan alami di tengah-tengah hutan serta perkebunan cengkih dan sagu. Asri dan penuh kesejukan.
Tiba kembali di Amans menjelang ‘Isya, cukup seharian menikmati keelokan kota Ambon walau sebenarnya masih menyisakan penasaran karena masih begitu banyak tempat-tempat indah yang belum terjamah. ‘Ala kulli haal setumpuk tugas sudah harus digeluti esok hari.
![]() |
| Bandara Pattimura dari udara |
![]() |
| Dekat pelabuhan Ambon |
![]() |
| Pusat pertokoan Jl. AY Patty, sudah pulih |
![]() |
| Mesjid Al Fatah Ambon |
![]() |
| Pemandian air panas Tulehu |
![]() |
| Bersama dai PKPU di halaman masjid Al Fatah thn 2000 |






keren..
BalasHapus