Setelah menuntaskan agenda di Teminabuan pada pukul 08.00 kami bertemu anggota DPRD Kabupaten Sorong Selatan Ahmad Syamsuddin, SE. Dan beberapa saat mendiskusikan hal-hal terkait agenda di Maybrat nanti. Aleg termuda di Sorsel ini akan memandu kami menuju Kabupaten Maybrat. Sebelum berangkat menuju Maybrat kami memenuhi undangan silaturahim Bupati Sorsel Drs. Otto Ihalauw, kami disambut dengan senang hati dan penuh persahabatan. Selanjutnya kami baru mulai perjalanan ke Maybrat pukul 09.00.
Seperti saat kedatangan ke Teminabuan yang harus melintas hutan belantara, perjalanan ini pun tidak jauh berbeda. Walaupun pemandangan yang ditawarkan sangat menarik, tapi sayangnya, saya sempat juga tidak menikmati perjalanan ini. Pada beberapa ruas jalan terpaksa saya harus menahan sakit perut, karena getaran mobil yang cukup kuat. Jalan ke Kabupaten Maybrat ini jalannya bukanlah aspal hot mix yang mulus tanpa hambatan, alias banyak lobang di sana sini dan cuma berupa tebaran batu kapur. Jadi bisa dibayangkan bagaimana debunya. Masyarakat kadang tak punya pilihan, jadi terpaksa menggunakan angkutan darat ini. Padahal ongkosnya cukup mahal.
Kami melewati beberapa kampung, terlihat hampir semua rumah sudah beratap seng dan berdinding beton. Sementara di pinggir perkampungan itu terdapat hutan rindang dengan sungai yang airnya bening, mengalir di pinggir kampung. Anak-anak dan kaum ibu mandi di pancuran air yang mengalir langsung dari mata air di bawah kaki gunung dan bukit. Burung-burung hutan bernyanyi bersahut-sahutan di sekitar kampung.
Di tengah hempasan dan guncangan roda-roda Strada yang kami tumpangi, terkadang terlintas dalam benak saya,”Saya tidak pernah bermimpi sebelumnya untuk mengenal daerah yang bernama Maybrat ini bila bukan karena tugas dakwah yang menghendakinya.”
Maybrat adalah kabupaten baru ini hasil pemekaran dari kabupaten Sorong. Disahkan melalui UU-RI Tahun 2009 Nomor 13 tentang Pembentukan Kabupaten Maybrat sebagai hasil pemekaran dari kabupaten Sorong. Terdiri dari 11 distrik antara lain distrik Aifat, distrik Aifat Utara, distrik Aifat Timur, distrik Aifat Selatan, distrik Aitinyo Barat, distrik Aitinyo, distrik Aitinyo Utara, distrik Ayamaru, distrik Ayamaru Utara, distrik Ayamaru Timur, distrik Mare.
Perjalanan kami sebenarnya tidak memakan waktu lama, hanya 1,5 jam saja. Tapi kondisi jalan yang banyak rusak, menyempit dan berkelok kelok, walau ada sebagian jalan sudah baik dan sebagian masih dalam pembenahan, namun jauh lebih baik kondisinya dibanding perjalanan Sorong-Teminabuan. Dan mendekati distrik Aitinyo mobil kami berhenti, karena ada sajian alam yang luar biasa. Hamparan air yang luas terbentang di depan mata. Saya langsung berdecak kagum…subhanallah!!
Sebuah view yang eksotis, inilah danau Ayamaru yang sangat indah. Keindahan khas alam Papua yang asli dan alami. Ya memang…Papua memiliki lebih dari 200 danau (kecil dan besar), seperti Danau Paniai, Tigi, Sentani, Yamur, dan Rombebai. Sebagian besar belum diberi nama. Danau-danau tersebut memiliki fungsi strategis bagi masyarakat tradisional. Tampaknya tidak banyak orang yang tahu tentang danau Ayamaru ini –termasuk saya--yang terletak di kabupaten Maybrat Propinsi Papua Barat. Kalau di peta terletak pas di kepala Burung.
Belum selesai dengan ketakjuban akan pemandangan yang ada di depan saya, ada lagi sebuah danau kecil di pinggiran danau yang besar. Tampak gradien warna danau dari warna kuning hijau biru yang menakjubkan.. ditambah lagi airnya yang jernih sehingga kita bisa melihat ikan-ikan yang berenang kesana kemari. Di tengah danau tampak anak-anak Papua sedang mencari ikan dengan cara ditombak. Wow… butuh keahlian yang luar biasa untuk bisa melakukan hal tersebut.
Danau Ayamaru sudah dikenal sejak zaman Belanda. Ada tiga danau yang merupakan satu kesatuan, yaitu Yahu (bagian atas), Yate (bawah), dan Ikri (penampung air dari sungai). Danau tersebut dimanfaatkan untuk arena rekreasi. Ada upaya Belanda membangun sistem pengairan dengan menggunakan air danau itu, tetapi konstelasi politik (1962) saat proses integrasi Papua ke RI, rencana tersebut dihentikan.
Selanjutnya kami langsung menuju ibukota kabupaten Maybrat yaitu Kumurkek sebuah kota yang baru tumbuh atau lebih tepatnya kampung yang sedang membangun. Maka sampailah kami di kampung Kambufatem distrik Aitinyo Barat lokasi undangan dimana kami harus hadir.
Suara dari loudspeaker terdengar keras berisi seruan kepada warga untuk segera datang mempersiapkan segala sesuatu untuk persiapan deklarasi dan pelantikan Dewan Pengurus Daerah (DPD PKS) Maybrat. Saya pun langsung terenyuh melihat atensi yang begitu luar biasa. Ternyata sudah banyak masyarakat yang berkumpul dan suasananya begitu semangat. Tampak hadir tokoh-tokoh Maybrat Pak Yosef Kambu, Fredrick Kambu dan Luther Kambu.
Ketika tahu rombongan kami sudah datang. Mereka langsung bergegas merapikan hadirin dan memberikan arahan tentang apa saja yang harus dipersiapkan dan dikerjakan. Sementara gedung serba guna tempat akan berlangsungnya acara telah penuh dengan hadirin yang ingin menyaksikan deklarasi PKS Maybrat.
Tampak terpasang spanduk, tenda dari terpal untuk para tamu-tamu yang datang. Masyarakat Kampung Aitinyo yang menjadi tuan rumah Deklarasi PKS ini sangat antusias dan semangat untuk mempersiapkan segalanya agar acara bisa berjalan dengan baik. PKS memang sudah ada sejak pemilu 2004 tapi baru setingkat distrik. Jadi deklarasi ini untuk pengukuhan struktur PKS di tingkat kabupaten sejalan dengan Maybrat yang telah dimekarkan menjadi kabupaten.
Acara pun dimulai Selasa, (3/2/2011) pagi pukul 11.00 WIT di Aitinyo Barat.Ketua PKS Kabupaten Maybrat Papua Barat, Yosef Kambu, dalam sambutan pembukaannya mengatakan, deklarasi ini merupakan aspirasi masyarakat. Deklarasi ini, tambahnya, lebih pada upaya untuk merespon pernyataan PKS sebagai partai terbuka. Dan kabupaten Maybrat sebagai daerah mayoritas kristiani siap mengembangkan struktur dan memenangkan PKS pada setiap pemilu. Untuk itu, segala mekanisme dan prosedur yang berlaku di PKS akan dipenuhi.
Ada yang membuat saya terharu saat deklarasi berlangsung, bersama-sama menyanyikan ‘Indonesia Raya’ dan Mars Keadilan serta ‘ Tanah Papua’ benar-benar kejadian langka yang membuat dada bergemuruh. Ditambah saat ramah tamah dengan para pemangku adat masyarakat Maybrat, sebagai bentuk rasa kedekatan antara PKS dan masyarakat, saya mewakili DPP PKS Jakarta disematkan gelar kehormatan ‘AMO STUBAT NYO NMO RAMANES’. Prosesi berlangsung dengan pemberian tas noken ( tas khas papua) dan topi pandang.
Malamnya disaat saya mencoba untuk memejamkan mata, saya berharap apa yang disampaikan Pak Ketua tadi pagi bisa terwujud. "Semoga partai keadilan sejahtera ini benar-benar dapat menciptakan keadilan dan kehidupan yang sejahtera bagi masyarakat masyarakat Maybrat khususnya dan rakyat Indonesia pada umumnya.”
Ya..semoga !!!

Seperti saat kedatangan ke Teminabuan yang harus melintas hutan belantara, perjalanan ini pun tidak jauh berbeda. Walaupun pemandangan yang ditawarkan sangat menarik, tapi sayangnya, saya sempat juga tidak menikmati perjalanan ini. Pada beberapa ruas jalan terpaksa saya harus menahan sakit perut, karena getaran mobil yang cukup kuat. Jalan ke Kabupaten Maybrat ini jalannya bukanlah aspal hot mix yang mulus tanpa hambatan, alias banyak lobang di sana sini dan cuma berupa tebaran batu kapur. Jadi bisa dibayangkan bagaimana debunya. Masyarakat kadang tak punya pilihan, jadi terpaksa menggunakan angkutan darat ini. Padahal ongkosnya cukup mahal.
Kami melewati beberapa kampung, terlihat hampir semua rumah sudah beratap seng dan berdinding beton. Sementara di pinggir perkampungan itu terdapat hutan rindang dengan sungai yang airnya bening, mengalir di pinggir kampung. Anak-anak dan kaum ibu mandi di pancuran air yang mengalir langsung dari mata air di bawah kaki gunung dan bukit. Burung-burung hutan bernyanyi bersahut-sahutan di sekitar kampung.
Di tengah hempasan dan guncangan roda-roda Strada yang kami tumpangi, terkadang terlintas dalam benak saya,”Saya tidak pernah bermimpi sebelumnya untuk mengenal daerah yang bernama Maybrat ini bila bukan karena tugas dakwah yang menghendakinya.”
Maybrat adalah kabupaten baru ini hasil pemekaran dari kabupaten Sorong. Disahkan melalui UU-RI Tahun 2009 Nomor 13 tentang Pembentukan Kabupaten Maybrat sebagai hasil pemekaran dari kabupaten Sorong. Terdiri dari 11 distrik antara lain distrik Aifat, distrik Aifat Utara, distrik Aifat Timur, distrik Aifat Selatan, distrik Aitinyo Barat, distrik Aitinyo, distrik Aitinyo Utara, distrik Ayamaru, distrik Ayamaru Utara, distrik Ayamaru Timur, distrik Mare.
Perjalanan kami sebenarnya tidak memakan waktu lama, hanya 1,5 jam saja. Tapi kondisi jalan yang banyak rusak, menyempit dan berkelok kelok, walau ada sebagian jalan sudah baik dan sebagian masih dalam pembenahan, namun jauh lebih baik kondisinya dibanding perjalanan Sorong-Teminabuan. Dan mendekati distrik Aitinyo mobil kami berhenti, karena ada sajian alam yang luar biasa. Hamparan air yang luas terbentang di depan mata. Saya langsung berdecak kagum…subhanallah!!
Sebuah view yang eksotis, inilah danau Ayamaru yang sangat indah. Keindahan khas alam Papua yang asli dan alami. Ya memang…Papua memiliki lebih dari 200 danau (kecil dan besar), seperti Danau Paniai, Tigi, Sentani, Yamur, dan Rombebai. Sebagian besar belum diberi nama. Danau-danau tersebut memiliki fungsi strategis bagi masyarakat tradisional. Tampaknya tidak banyak orang yang tahu tentang danau Ayamaru ini –termasuk saya--yang terletak di kabupaten Maybrat Propinsi Papua Barat. Kalau di peta terletak pas di kepala Burung.
Belum selesai dengan ketakjuban akan pemandangan yang ada di depan saya, ada lagi sebuah danau kecil di pinggiran danau yang besar. Tampak gradien warna danau dari warna kuning hijau biru yang menakjubkan.. ditambah lagi airnya yang jernih sehingga kita bisa melihat ikan-ikan yang berenang kesana kemari. Di tengah danau tampak anak-anak Papua sedang mencari ikan dengan cara ditombak. Wow… butuh keahlian yang luar biasa untuk bisa melakukan hal tersebut.
Danau Ayamaru sudah dikenal sejak zaman Belanda. Ada tiga danau yang merupakan satu kesatuan, yaitu Yahu (bagian atas), Yate (bawah), dan Ikri (penampung air dari sungai). Danau tersebut dimanfaatkan untuk arena rekreasi. Ada upaya Belanda membangun sistem pengairan dengan menggunakan air danau itu, tetapi konstelasi politik (1962) saat proses integrasi Papua ke RI, rencana tersebut dihentikan.
Selanjutnya kami langsung menuju ibukota kabupaten Maybrat yaitu Kumurkek sebuah kota yang baru tumbuh atau lebih tepatnya kampung yang sedang membangun. Maka sampailah kami di kampung Kambufatem distrik Aitinyo Barat lokasi undangan dimana kami harus hadir.
Suara dari loudspeaker terdengar keras berisi seruan kepada warga untuk segera datang mempersiapkan segala sesuatu untuk persiapan deklarasi dan pelantikan Dewan Pengurus Daerah (DPD PKS) Maybrat. Saya pun langsung terenyuh melihat atensi yang begitu luar biasa. Ternyata sudah banyak masyarakat yang berkumpul dan suasananya begitu semangat. Tampak hadir tokoh-tokoh Maybrat Pak Yosef Kambu, Fredrick Kambu dan Luther Kambu.
Ketika tahu rombongan kami sudah datang. Mereka langsung bergegas merapikan hadirin dan memberikan arahan tentang apa saja yang harus dipersiapkan dan dikerjakan. Sementara gedung serba guna tempat akan berlangsungnya acara telah penuh dengan hadirin yang ingin menyaksikan deklarasi PKS Maybrat.
Tampak terpasang spanduk, tenda dari terpal untuk para tamu-tamu yang datang. Masyarakat Kampung Aitinyo yang menjadi tuan rumah Deklarasi PKS ini sangat antusias dan semangat untuk mempersiapkan segalanya agar acara bisa berjalan dengan baik. PKS memang sudah ada sejak pemilu 2004 tapi baru setingkat distrik. Jadi deklarasi ini untuk pengukuhan struktur PKS di tingkat kabupaten sejalan dengan Maybrat yang telah dimekarkan menjadi kabupaten.
Acara pun dimulai Selasa, (3/2/2011) pagi pukul 11.00 WIT di Aitinyo Barat.Ketua PKS Kabupaten Maybrat Papua Barat, Yosef Kambu, dalam sambutan pembukaannya mengatakan, deklarasi ini merupakan aspirasi masyarakat. Deklarasi ini, tambahnya, lebih pada upaya untuk merespon pernyataan PKS sebagai partai terbuka. Dan kabupaten Maybrat sebagai daerah mayoritas kristiani siap mengembangkan struktur dan memenangkan PKS pada setiap pemilu. Untuk itu, segala mekanisme dan prosedur yang berlaku di PKS akan dipenuhi.
Ada yang membuat saya terharu saat deklarasi berlangsung, bersama-sama menyanyikan ‘Indonesia Raya’ dan Mars Keadilan serta ‘ Tanah Papua’ benar-benar kejadian langka yang membuat dada bergemuruh. Ditambah saat ramah tamah dengan para pemangku adat masyarakat Maybrat, sebagai bentuk rasa kedekatan antara PKS dan masyarakat, saya mewakili DPP PKS Jakarta disematkan gelar kehormatan ‘AMO STUBAT NYO NMO RAMANES’. Prosesi berlangsung dengan pemberian tas noken ( tas khas papua) dan topi pandang.
Malamnya disaat saya mencoba untuk memejamkan mata, saya berharap apa yang disampaikan Pak Ketua tadi pagi bisa terwujud. "Semoga partai keadilan sejahtera ini benar-benar dapat menciptakan keadilan dan kehidupan yang sejahtera bagi masyarakat masyarakat Maybrat khususnya dan rakyat Indonesia pada umumnya.”
Ya..semoga !!!

Danau Ayamaru dari kejauhan, seperti lautan

Deklarasi PKS di kabupaten Maybrat disaksikan pejabat setempat

Penyerahan bendera PKS dari ketua DPW PKS Papua Barat kepada ketua DPD PKS Maybrat...simbol diterimanya PKS di tanah Papua

Bersama tokoh-tokoh Maybrat

Keindahan danau Ayamaru dari dekat

Airnya jernih sekali

Anak-anak menikmati segarnya danau

Senyum anak-anak Aifat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar