Selasa, 05 April 2011

Coretan Perjalanan [3] Banda Neira

Bagi Anda yang belum terbiasa melakukan perjalanan lewat laut, mungkin ada baiknya kalau mencoba satu jalur yang indah. Jalur ini menyajikan pemandangan yang sungguh menawan tanpa harus ada kekhawatiran akan mabuk laut. Sebuah perjalanan dari Ambon menuju Tual (Kota di Maluku Tenggara) melalui Banda Neira. Waktu tempuh transportasi laut ini sekitar 18 jam. Tapi dijamin tidak membosankan...[Setidaknya ini menurut saya].

Di tengah laut Anda akan disambut parade ikan lumba-lumba yang lincah-lincah. Sesekali anda akan takjub dengan kehadiran gerombolan ikan tuna (cakalang) melompat-lompat hingga membuat permukaan air laut tampak berdecak. Dan yang selalu hadir menemani pelayaran anda adalah atraksi ikan-ikan terbang yang bisa anda saksikan dari dek kapal.

Pelabuhan kota Tual hanya disinggahi kapal penumpang sebanyak dua kali dalam sebulan (Ahad dan Rabu) secara bergiliran oleh kapal penumpang Ciremai, Bukit Siguntang dan Tatamai Laut. Tetapi anda tidak perlu takut kehabisan tiket karena daya tampung kapal-kapal ini cukup memadai. Dan tentunya juga dengan kapal besar ini anda tidak akan menjumpai gelombang yang akan melampaui tingginya Kapal, paling-paling hanya ada riak-riak kecil saja.

Nah yang paling menarik adalah, setiap kapal penumpang yang berangkat dari kota Ambon selalu singgah terlebih dahulu di pelabuhan Banda Neira. Inilah tempat yang menjadi tujuan para touris asing karena keindahan dan menyimpan monumen bersejarah. Perjalanan ke Pulau Banda termasuk perjalanan yang tidak akan saya sesali seumur hidup. Betapa tidak, gugusan pulau yang terletak di salah satu palung laut terdalam di dunia ini menyimpan keindahan yang tak terperikan. Kepulauan yang masuk dalam wilayah Kabupaten Maluku Tengah tersebut menyimpan sesuatu yang amat berharga. Sesuatu yang sanggup membuat orang-orang Eropa (Portugis, Spanyol dan Belanda) mau berlayar berbulan-bulan untuk mendatanginya, ratusan tahun yang lalu. Dan tindakan mereka memang tidak sia-sia.

Kepulauan Banda adalah sebuah kombinasi unik dan indah antara pantai, gunung berapi dan buah pala yang terkenal. Kombinasi yang bisa membuat orang tak mampu lagi mengontrol kerakusan dirinya untuk menguras habis kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. Amsterdam adalah bukti nyata hasil rampasan sekelompok orang rakus itu. Dari Benteng peninggalan kolonial, bisa terlihat sebuah landscape yang mengagumkan. Pantai yang elok, saksi bisu ramainya perdagangan buah emas bernama pala beberapa abad silam. Sangat strategisnya letak pantai, hingga para pendatang haram itu perlu membangun pertahanan dari beton (benteng kuno) berjuluk Gelfica Belgica. Dan sebuah Istana Mini, tempat di mana Lieutenant Willem III pernah bercokol di dalamnya.

Saat kapal merapat di Pulau Banda waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 WIT dan saya hanya punya waktu satu jam untuk turun ke darat sekadar jeprat-jepret sedikit. Tapi waktu seakan berjalan demikian cepat dan stomb kapal berbunyi sekali, artinya 30 menit lagi kapal akan meninggalkan pelabuhan Banda. Akhirnya hanya sempat jeprat jepret dari atas kapal saja. Banda seperti sepenggal surga yang diberikan Tuhan kepada ibu pertiwi tercinta. Entah kapan saya bisa kembali mengunjungi Pulau Banda mengingat transpostasi yang sangat terbatas menuju pulau tersebut…

Saya dan beberapa teman menyewa kamar di kelas dua. Satu kamar ada empat tempat tidur. Sedikit pendingin yang terkadang mati. Selain kami, kecoa juga ikut menginap dalam kamar. Hilir mudik di atas kasur dan kamar mandi. Karpet penuh debu. Satu toilet. Dan mandi pakai ember. Air terbatas. Hanya mengalir pada jam 05.00-07.00, 11.00-13.00, dan 17.00-19.00.

Kamar jarang atau tidak pernah dibersihkan sama sekali. Mungkin hanya diganti seprainya saja. Keramik dan kaca kamar mandi kotor. Tapi ini adalah salahsatu kemewahan dan pelayanan terbaik dari PELNI. Beruntunglah pelayaran ini cuma seharian. Padahal kapal Pelni ini startnya dari Sumatera, berarti sudah enam hari mengarungi laut Nusantara. Menurut cerita dari teman-teman yang telah lebih dulu jadi penumpang kapal ini, bahwa tiap pagi dapat jatah sarapan pagi. Goreng telur dan nasi. Makan siang, ikan, goreng ayam, sedikit sayur dan nasi. Jangan tanya soal rasa. Tak ada yang istimewa. Dan sepertinya semua makanan bukan barang segar. Ikan, sayur dan daging ayam diambil dari pendingin. Tak ada saripati. Dingin. Tak ada pilihan selama di kapal. Kecuali, makan mie seduh.

Ketika meninggalkan Banda Neira, hujan turun lebat. Penumpang penuh mengisi semua ruang dek. Udara ruangan terasa panas. Rasanya, saluran ventilasi mati. Bau ruangan gado-gado. Keringat, muntah, campur amoniak dari toilet yang bikin sengak. Saya tak tahan dan memilih berada di luar kapal. Duduk di kafetaria dan menghadap laut. Udara segar dari angin laut.

Sudah enam belas jam saya berada di atas kapal itu. Saya melihat para penumpang lain tidur berdesakan saling berselonjor di kursi besi. Hujan tak berhenti sejak dari Banda. Air menggenang di lantai dek. Penumpang menyingkir dan bertahan dari cipratan hujan. Dan ternyata mereka bisa tidur walau satu malam kena guyuran hujan.

Toilet dan sanitasi kapal adalah masalah utama transportasi laut di republik ini. Mengerikan membayangkan kondisi toiletnya. Dan, bagi Anda yang punya standar tinggi, saya jamin tidak mungkin menggunakan toiletnya. Mungkin lebih baik memilih pesawat ketimbang kapal.

Namun, inilah potret transportasi laut Indonesia. Banyak warga yang tergantung dengan keberadaan kapal seperti ini. Naik pesawat jauh lebih mahal. Dan bagi yang miskin tidak mungkin menikmati kemewahan seperti pelayanan pesawat. Bahkan, kemewahan menyewa kamar kelas satu atau dua di kapal pun termasuk berat.

Warga miskin harus rela berdesakan di ruang dek kelas ekonomi. Menggunakan toilet yang tinjanya sering meluap. Aliran air yang diatur pada jam-jam tertentu. Kalau tak dapat jatah tempat, silahkan menggelar lapak di lantai dek, gang kapal, kafetaria, bahkan hingga kapal sekoci!

Akhirnya siang hari kapal merapat di pelabuhan Tual. Kota yang apabila dibaca terbalik berbunyi ”laut”, juga dijuluki ”Bumi Larful Ngabal” (darah merah diujung tombak). Sebenarnya kota ini dapat dicapai dalam waktu 90 menit saja dengan penerbangan dari bandara Pattimura Ambon ke pangkalan Angkatan Udara Dumatubun Langgur di Kabupaten Maluku Tenggara. (Bersambung)
 

View Banda dari atas kapal Pelni
 
 
perahu-perahu pengangkut
 
 
Fort Belgica, benteng pertahanan para penjajah dulu
 
 
Gunung api di P Banda
 
Konon menurut penduduk setempat istana ini sudah ada jauh sebelum 
dibangunnya istana negara
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar