Selasa, 05 April 2011

Coretan Perjalanan [5] Jayapura

Sore itu saya harus segera mengemas barang bawaan seperlunya, dengan masih berbalut lelah terpaksa saya mencari taksi untuk ke bandara Soekarno-Hatta. Flight dengan Merpati sebenarnya pukul 22.00, cuma saya tidak mau ambil resiko sebab kemacetan di Jakarta sulit diprediksi. Jam saat itu masih menunjukkan pukul 19.30 WIB. Makanya saya bergegas agar bisa chek in lebih awal, karena perkiraan jarak tempuh ke bandara sekitar satu jam.

Sebenarnya ini bukan kunjungan saya yang pertama ke Indonesia timur dan berkunjung ke papua khususnya butuh effort yang lebih besar. Karena perjalanan ke Jayapura adalah perjalanan panjang, menembus zona waktu dari Waktu Indonesia Barat ke Timur dan memakan waktu lebih dari 6 jam dengan pesawat. Kata orang kalau di Eropa mungkin sudah melintasi beberapa negara. Duh..negeriku memang sangat luas!

Sekitar jam 02.00 pagi transit di bandara Hasanuddin sekitar setengah jam. Bandara Makassar buka 24 jam karena sering untuk transit pesawat dengan tak mengenal waktu. Mungkin menyesuaikan waktu mendarat di Jayapura pada pagi harinya. Di parkiran terlihat pesawat Garuda, Merpati, Lion yang juga ada skedul ke Jayapura. Di ruang tunggu, mulai terlihat beberapa wajah Papua yang menunggu pesawat. Ternyata di situ banyak anak-anak kecil juga begadangan untuk menunggu skedul pesawat. Ada keluarga kecil dengan anaknya. Ibunya sambil terkantuk-kantuk menenangkan bayinya. Bapaknya menunggui anak satunya. Juga beberapa keluarga yang lain. Melihat “perjuangan” itu ternyata masih ada yang lebih susah bila liburan dari merantau dibanding kita yang di Jawa.

Sekitar jam 02.30 kami boarding. Pesawat penuh juga. Di pesawat suasana hening karena mengantuk semua. Pramugari dengan wajah setengah kuyu tetapi berusaha tersenyum. Sepertinya menahan kantuk. Apa enaknya kerja pada dini hari dengan melawan bioritmik hidup? Saya juga berusaha untuk tidur meski susah karena ruang kursi pesawat Merpati yang sempit. Pokoknya mata terpejam saja. Pesawat terbang tenang entah sudah berapa jam. Menjelang pagi, sholat subuh di pesawat dengan tayamum. Tak lama, sinar matahari mulai menyapa. Wow! Di tengah capeknya badan, terbang diantara mega-mega. Sinar matahari mulai terang. Terlihat pemandangan di bawah, hutan-hutan yang berbukit-bukit. Sepertinya hutannya masih lebat. Mendekati Bandara Sentani, terlihat Danau Sentani dari atas di antara tanah-tanah yang berbukit-bukit. Ada kabut tipis di udara Sentani.

Pesawat mendarat mulus. Sampai Bandara Sentani, Jayapura sekitar jam 06.45 WIT. Bandaranya masih sederhana di antara lekukan bukit. Batas bandaranya di landasan pacu pepohonan hutan dan tak ada pagarnya. Banyak juga pesawat yang parkir. Ada pesawat TNI, helikopter, pesawat kecil, dan beberapa pesawat yang direparasi. Sepertinya juga dijadikan hanggar pesawat TNI. Kami masuk di ruang kedatangan yang bentuk bangunannya mengadaptasi rumah tradisionil Papua, rumah model Suku Dani yang berbentuk seperti jamur.

Mulai terlihat porter berwajah Papua dengan badan yang kuat. Tempat belt conveyor mengambil bagasi pendek sekali. Banyak sekali poster peringatan tentang penyakit Aids. Ya.. informasinya Papua menjadi juara pertama dalam penyebaran penyakit HIV/Aids di Indonesia. Ada banyak iklan penawaran hotel. Dan ada banyak iklan komersil lainnya seperti juga banyak kita temui di hampir semua bandara. Tak berapa lama, saya dijemput seorang teman yang sudah menetap lama di Jayapura, Pak Maddu Mallu dengan mobil APV hitam. Beliau adalah salah satu anggota legislative PKS di Papua. Selamat datang di Papua.

Kami menyusuri jalan pagi dari Bandara Sentani ke arah Jayapura. Jaraknya sekitar 40 km. Tentunya mata kami tak mau lepas dari pemandangan jalan. Kamera foto digital sudah disiapkan. Begitu keluar areal bandara ada sebuah masjid besar dengan halaman yang luas dan tak jauh dari situ ada bangunan seperti kuburan di pinggir lapangan yang menyita perhatian saya. Bangunan apa itu? Katanya, makamnya Dortheys Hiyo Eluay, seorang tokoh Papua yang terbunuh pada 10 November 2001.

Kami menyusuri jalan di pinggir Danau Sentani. Inikah danau terbesar nomor dua di Indonesia setelah Danau Toba? Dalam kelok-kelok jalan masih saja menyusuri pinggir Danau Sentani. Pemukiman masih sangat jarang. Ada beberapa restoran di pinggir danau. Danau Sentani adalah danau terbesar di Papua, menerima 24 mata air aliran sungai dan sumur bawah tanah dari Gunung Cycloop dengan outlet di Sungai Tami. Di seputar danau hiduplah suku bangsa Sentani, ras Papua-Melanesia, kelompok etnis Sentani-Tanamerah (Demta), sub etnis Sentani, wilayah budaya Tabi. Danau Sentani merupakan danau alam dengan pulau-pulau yang berbukit-bukit di tengah-tengah danau. Luas danau adalah 3,63 hektar dengan ketinggian 75 m di atas permukaan air laut. Di lokasi ini terdapat pemandangan alam yang indah dengan beberapa tempat pemancingan yang dilengkapi pondok-pondok yang berbentuk panggung. Di sini banyak ditemukan ikan-ikan yang masih segar.

Sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian memancing selain menjual berbagai ukiran tradisional dari kayu. Danau ini merupakan tempat yang sangat bagus untuk berenang, bersampan, memancing, bermain ski air dan melakukan beberapa olah raga air lainnya. Sayang fasilitas untuk itu tidak terlihat. Para pengunjung juga bisa menyaksikan seni tari tradisional pada acara festival atau pada hari-hari perayaan. Danau Sentani terletak di Kecamatan Sentani, 20 kilometer di sebelah barat kota Jayapura, dapat dijangkau dengan berbagai macam sarana transportasi dalam waktu 20 menit. Angkutan umum yang dapat digunakan yaitu jalur Abepura-Sentani.

Di seberangnya terlihat pemandangan bukit-bukit tandus yang ditumbuhi rumput. Saya ingin melihat rumah asli Papua yang seperti bentuk jamur tetapi tidak ketemu. Rumah-rumah sudah seperti rumah biasa berdinding tembok atau kayu. Banyak sekali gereja di kiri kanan jalan dari yang sederhana sampai dengan arsitektur cantik.. Bermacam nama gereja.

Kondisi tanah di Jayapura berbukit-bukit. Kantor Walikota Jayapura di atas bukit. Kotanya hanya di daratan seputar Selat Arafura. Gabungan antara tanah berbukit dan laut yang biru nampak indah. Di seberang jauh sana nampak Samudra Pasifik. Rumah-rumah berjejalan di suatu tempat datar dan berpencaran disesuaikan dengan kondisi tanah. Melewati sebuah jembatan sungai kecil, nampak beberapa ekor babi bermain di sungai.

Sedikit informasi tentang Jayapura. Sebelum Perang Dunia II, saat Belanda mendarat di Papua, Jayapura diberi nama “Hollandia”, yang berarti daerah berbukit-bukit dan berteluk. Saat itu daerah ini ditunjuk sebagai ibu kota “Dutch New Guinea”. Setelah definitif kembali ke Indonesia pada 1 Mei 1963, nama “Hollandia” menjadi “Kota Baru” (1963-1969), lalu “Sukarnopura” (1969-1975), dan akhirnya “Jayapura”.

Jayapura terletak di bibir Teluk Yos Sudarso dan Teluk Yotefa. Pemandangan indah panorama alam yang berbukit-bukit serta hamparan lautan Pasifik berair biru jernih menawarkan obyek wisata menarik. Pemerintah kota pun merancang Jayapura sebagai kota jasa, perdagangan, dan pariwisata. Di luar itu, sebutan kota pendidikan atau pun kota pelabuhan juga melekat bagi ibu kota Provinsi Papua ini. Citra sebagai ibu kota provinsi yang menyandang segala kemudahan pemenuhan kebutuhan hidup dan sarana pendukung menyebabkan kota ini jadi kota tujuan. Beragam etnis, agama, budaya, maupun tingkat pendidikan mewarnai kehidupan kota. Mereka bekerja di berbagai bidang mulai pertanian hingga pemerintahan.

Topografi daerah cukup bervariasi, mulai dari dataran hingga daerah berbukit di ketinggian 700 meter di atas permukaan air laut. Jarak terjauh dari barat ke timur 336 km, sedangkan jarak terjauh dibagi menjadi 24 distrik, 261 desa dan 7 kelurahan. Distrik terkecil adalah Sentani dan Sentani Timur. Wilayah perbukitan terjal, rawa-rawa (146.575 ha), dan hutan lindung dengan kemiringan 40 persen merupakan daerah yang tidak layak huni. Kondisi seperti itu membuat penyebaran penduduk kurang merata. Penduduk banyak terkonsentrasi di pusat kota, yaitu Kecamatan Jayapura Utara dan Jayapura Selatan. Sungai yang melintas di kabupaten Jayapura terdiri dari 21 buah, sebagian besar menuju ke pantai utara (samudra pasifik) yang pada umumnya sangat tergantung dengan fluktuasi air hujan.

Kondisi jalan yang baik membuat Jayapura memiliki fungsi sebagai kota transit. Bukan hanya penduduk Papua yang menjadikan Jayapura sebagai kota transit, turis asing maupun lokal juga menggunakan kota ini sebagai kota persinggahan bila ingin menuju pedalaman. Penerbangan dari Jayapura ke pelosok pedalaman juga lebih mudah didapat, dibanding penerbangan dari kabupaten lain.

Iklim di wilayah kabupaten Jayapura adalah tropis, dengan temperatur rata-rata 25 – 35 derajat celcius, di daerah pantai temperatur 26 derajat sedangkan di daerah pedalaman temperaturnya bervariasi sesuai ketinggian dari permukaan laut. Perbedaan musim hujan dan musim kering hampir tidak ada, karena pengaruh angin. Curah hujan berkisar antara 1500 – 6000 mm/tahun. Dengan jumlah hari hujan dalam setahun rata-rata 159 – 229 hari, curah hujan tertinggi terjadi di pesisir pantai utara sedangkan terendah di daerah pedalaman (sekitar wilayah Kemtuk Gresi – Nimboran).

Kami langsung check in di Hotel Mutiara Jl. Burung Perkutut Kotaraja, Jayapura. Karena masih capek dan belum sempat tidur, kami mau bersih-bersih badan dan istirahat dulu. Setelah istirahat sebentar kami makan siang ikan mujair bakar di daerah Entrop. Setelah itu kami menuju kantor DPW PKS yang juga berada di daerah Entrop.

Kalau malam hari, kebetulan pas malam Minggu, hampir seluruh ruas jalan dipenuhi orang-orang yang lalu lalang, menyemut dan tentu saja membuat arus kendaraan sedikit terhambat. Beginilah cara unik orang Papua menghabiskan malam Minggu mereka. Pagi harinya saat kami jalan-jalan pagi di sekitar pelabuhan. Beberapa orang tertidur di pinggir sungai atau di terminal. Menurut informasi beberapa orang, sudah menjadi kebiasaan masyarakat yang suka minum minuman keras. Katanya para aparat dan karyawan juga ada yang suka minum-minum bila tanggal gajian. Menurut Buku Ekspedisi Tanah Papua, laporan jurnalistik Kompas, 2007, ada semacam guyonan yang mengatakan kalau orang kaya Papua tidurnya di pinggir selokan karena malamnya mabuk berat. Yang tak punya uang tidurnya di rumah karena tidak bisa membeli minuman. Tetapi kondisi sekarang sudah lebih baik dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam berita Tabloid lokal Tifa Papua edisi Juli 2008, Kapolda Papua saat itu menyerukan kepada seluruh bawahannya untuk tidak akan mentolelir anggota Polri pengguna narkoba dan miras. Beberapa catatan kasus menonjol di Papua pada pertengahan 2008, diantaranya adalah pemalakan ada 19 kasus, penemuan mayat 5 kasus, perang saudara 2 kasus, rapat gelap 3 kasus. Masih ada satu kasus pengibaran bendera bintang kejora dan permintaan suaka politik. (Bersambung)




Danau Sentani dilihat dari pesawat Trigana


Kota Jayapura dilihat dari atas bukit
 

Pemandangan Indah Teluk Yoteffa
 
 
Berfoto di sekitar daerah Angkasa Jayapura
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar